Mejuah-juah.  Selamat datang di blog sederhana kami: "Gereja Injili Karo Indonesia.   Gereja Injili Karo Indonesia(GIKI) adalah gereja yang mengintegrasikan INJIL dan budaya KARO, dengan membina sentralitas, sakralitas, dan ritualitas iman.   2K(KK): Kristus dan Karo! Kami mencintai Kristus dan Karo; Kami menyembah Kristus dengan budaya Karo.   Syalom ras Mejuah-juah man banta kerina... Adi Tuhan Yesus sijadiken palas bas tengah-tengah geluhta, maka megegeh kita mbentasi kegeluhen enda aminna pe lit kalisunggung i lebe-lebenta .... adi megermet kita kerna budayanta, maka meriah katawari pe ukurta sebab enterem temanta si banci nampati kita...Syaloom mejuah-juah. Tuhan Yesus memberkati.

9 Apr 2013

Renungan Harian, Selasa, 09 April 2013

Selasa, 09 April 2013
Tabut dan Tobat
I Samuel 7: 2--14
Lalu berkatalah Samuel kepada seluruh kaum Israel demikian: "Jika kamu berbalik kepada TUHAN dengan segenap hati, maka jauhkanlah para allah asing dan para Asytoret dari tengah-tengahmu dan tujukan hatimu kepada TUHAN dan beribadahlah hanya kepada-Nya; maka Ia akan melepaskan kamu dari tangan orang Filistin." (ay. 3)

Ada istilah yang cukup populer di kalangan Kristen, yaitu Kristen KTP. Yang dimaksudkan dengan Kristen KTP ialah orang Kristen yang tidak menunjukkan cara hidup yang sesuai atau yang mendekati ajaran Tuhan Yesus.
Orang Kristen yang tidak mengikuti ajaran Tuhan Yesus tidak akan diberkati. Oleh karena berkat Tuhan bukan diberikan kepada orang yang beragama Kristen, melainkan kepada setiap orang yang percaya kepada-Nya dan melakukan kehendak-Nya di dalam hidupnya.
Begitu juga dengan orang Israel. Tabut Tuhan sudah ada di tengah-tengah mereka, tetapi hidup mereka tetap menderita karena tekanan orang Filistin. Mereka bertanya-tanya mengapa begitu banyak penderitaan yang harus mereka alami.
Nabi Samuel memberitahukan jawabnya. Mereka memiliki tabut, tetapi mereka tidak memiliki tobat. Tabut tanpa tobat tidak membuat hidup mereka bahagia. Itulah sebabnya, mereka ditantang untuk bertobat dan meninggalkan ilah-ilah mereka.
Orang Israel mendengarkan nasihat Samuel. Mereka membuang semua ilah-ilah yang selama ini mereka sembah, mereka mulai menyembah Tuhan Allah, mereka mengakui semua dosa dan kejahatan mereka, mereka membawa persembahan yang terbaik kepada Tuhan.
Apa yang kemudian terjadi? Mujizat Tuhan. Tuhan Allah sendiri yang mengguntur dan mengacaukan pasukan Filistin, sehingga mereka kalah. Samuel segera membuat batu peringatan dan menyebutnya ‘Eben Haezer’ yang artinya Tuhan sudah menolong sampai sekarang ini.
Sahabat Sinalsal, tidak cukup hanya menjadi orang Kristen. Kita ditantang untuk bertobat dari jimat-jimat yang kita pakai, ditantang untuk beribadah dan membawa persembahan kepada Tuhan Allah. Bila kita melakukannya, maka Allah akan melakukan perkara besar dan indah dalam hidup kita. (esg)  

Beriman Tanpa Melakukan

Ibarat Makan Tanpa Merasakan

 

Renungan Harian, Minggu, 07 April 2013

Minggu, 07 April 2013
Setia Di Antara Pendosa
I Samuel 3: 1--21
Dan Samuel makin besar dan TUHAN menyertai dia dan tidak ada satu pun dari firman-Nya itu yang dibiarkan-Nya gugur. Maka tahulah seluruh Israel dari Dan sampai Bersyeba, bahwa kepada Samuel telah dipercayakan jabatan nabi TUHAN (ay. 19—20)

Kebaikan itu dapat dibagi ke dalam tiga tingkatan. Tingkatan yang paling rendah ialah kita tidak berbuat baik di tengah-tengah orang baik. Tingkatan kedua ialah kita berbuat baik di tengah-tengah lingkungan yang baik. Tingkatan yang paling tinggi ialah kita berbuat baik di tengah-tengah lingkungan yang tidak baik.
Kalau seseorang berbuat baik atau menjadi baik di tengah-tengah orang baik itu adalah hal yang biasa. Mengapa? Oleh karena, sikap dan perilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungannya. Bila berada di lingkungan baik, maka sewajarnyalah seseorang melakukan hal yang baik.
Akan tetapi, seorang muda yang bernama Samuel bisa tetap baik dan setia kepada Tuhan walaupun berada di rumah orang-orang jahat. Ia sejak bayi sudah berada di rumah Imam Eli. Imam Eli memang baik, tetapi dua anaknya sangat jahat, sehingga Firman Tuhan menyebutnya dursila.
Samuel berada di bawah kekuasaan dua anak Imam Eli, Hofni dan Pinehas. Pastilah Samuel muda sering melihat kelakuan buruk kedua imam tersebut. Barangkali, bukan hanya melihat, melainkan juga didorong oleh kedua imam itu untukberbuat sama seperti mereka. Ini sungguh keadaan yang tidak mudah.
Akan tetapi, Samuel memiliki ketetapan hati untuk senantiasa menghormati hukum Tuhan dan melakukannya dengan segenap hati. Walaupun pemimpinnya tidak melakukan, ia tidak mau mengikuti teladan jahat tersebut.
Itulah sebabnya, ketika Tuhan berbicara, hanya Samuel yang mendengar suara Tuhan. Mengapa? Oleh karena hati Samuel masih bersih dari segala kejahatan.
Sahabat Sinalsal, sekarang ini, kita berada di tengah masyarakat yang sudah tidak sehat lagi. Kita selalu disuguhi hal-hal yang jahat dan bahkan didorong juga untuk berbuat jahat. Marilah kita meneladani Samuel. Jagalah hati kita untuk tetap takut akan Tuhan dan menaati perintah-perintah-Nya. (esg)


Jagalah Hati
Untuk Tetap Suci

 

4 Apr 2013

Renungan Harian, Jumat, 05 April 2013

Jumat, 05 April 2013
Upah Yang Setia Berdoa
I Samuel 1: 9--20
Pada suatu kali, setelah mereka habis makan dan minum di Silo, berdirilah Hana, sedang imam Eli duduk di kursi dekat tiang pintu bait suci TUHAN, dan dengan hati pedih ia berdoa kepada TUHAN sambil menangis tersedu-sedu (ay. 9—10)

Setiap orang punya banyak pilihan untuk menyelesaikan persoalan hidup yang dihadapinya. Bila persoalannya belum punya anak, maka seseorang bisa meminta jasa dokter untuk memberikan solusi. Bila bantuan dokter tidak memuaskan, maka tidak jarang orang mencari solusi praktis, yaitu si laki-laki kawin lagi.
Pernah juga ada kasus seorang wanita menggantung dirinya karena putus asa dan merasa terhina. Saudara-saudara suaminya mendorong suaminya untuk menikah lagi dan suaminya menuruti saran dari saudara-saudaranya. Ia merasa tertolak dan kehilangan segala-galanya, sehingga merasa mati menjadi pilihan terbaik baginya.
Tidak demikian dengan Hana. Walaupun bertahun-tahun ia tertekan karena tidak bisa memberikan anak kepada suaminya dan suaminya kawin lagi dan telah mendapat anak dari istri mudanya, ia tetap bertahan. Ia yakin bahwa suatu saat Tuhan akan mengubahkan dukanya menjadi suka. Itulah sebabnya, ia rajin beribadah dan berdoa kepada Tuhan.
Suatu kali, ketika mereka beribadah di Bait Allah, ia memisahkan diri dari suami dan madunya. Ia berdiri di depan pintu Bait Allah dan menyampaikan doanya dengan sepenuh hati sembari mencucurkan air matanya. Ia berdoa demikian lama dan dengan mulut yang komat-kamit sebagai tanda kesungguhan hatinya.
Tuhan mendengarkan doa umatnya yang disampaikan dengan sungguh-sungguh. Tuhan memberikan anak istimewa kepada Hana, yaitu Samuel yang nantinya menjadi nabi besar bagi umat Israel. Tuhan tidak hanya memberikan satu, tetapi memberikan kepada lima anak lagi.
Orang yang berdoa dengan sungguh-sungguh dan terus-menerus akan mengalami mujizat Tuhan yang luar biasa. Tuhan bukan hanya memberikan apa yang diminta, tetapi memberikan lebih daripada yang terbayangkan. Itulah upah bagi orang yang setia berdoa.
Sahabat Sinalsal, marilah kita meniru Hana. Bila ada persoalan berat yang sedang Saudara hadapi, berdoalah dengan sungguh-sungguh. (esg)

 Orang Yang Setia Berdoa
Akan Mengalami Mujizat Luar Biasa

 

 

2 Apr 2013

Renungan Harian, Rabu, 03 April 2013

Rabu, 03 April 2013
Rut Yang Setia
Rut 1: 12--22
Maka Rut, perempuan Moab itu, berkata kepada Naomi: "Biarkanlah aku pergi ke ladang memungut bulir-bulir jelai di belakang orang yang murah hati kepadaku." Dan sahut Naomi kepadanya: "Pergilah, anakku." (Rut 2: 2)

Menurut Rasul Paulus ada tiga permusuhan klasik di tengah-tengah dunia ini, yaitu permusuhan antara laki-laki dan perempuan, orang kaya dan orang miskin, bangsa kuat dan bangsa lemah.
Barangkali bisa ditambahkan satu lagi, yaitu permusuhan antara mertua dan menantu. Sangat umum kita mendengar bahwa para menantu sangat menghindari mertuanya. Mengapa menantu menghindari mertuanya? Oleh karena seorang mertua akan selalu merasa bahwa menantunya tidak bisa memberikan sebaik yang dia berikan kepada anak laki-lakinya.
Sangat berbeda dengan Rut. Ketika ada kesempatan untuk merdeka dan melepaskan diri dari mertuanya yang miskin dan tua, ia tidak melakukannya. Ia bahkan melekatkan dirinya pada mertuanya dan ikut ke kampung mertuanya.
Ketika tiba di kampung mertuanya dan tinggal di rumah mertunya yang sangat sederhana, Rut tidak menghabiskan waktunya untuk mengeluh dan meratapi nasibnya dan nasib mertuanya. Yang ia pikirkan ialah solusi atas masalah mereka.
Oleh karena itu, Rut segera meminta izin mertunya untuk mencari gandum ke ladang orang yang sedang panen gandum. Seharian Rut bekerja keras di bawah terik matahari tanpa mengeluh dan berkeluh-kesah. Sorenya ia pulang membawa gandum dan mengolahnya untuk makanan mereka berdua.
Ternyata, kesetiaan Rut mendatangkan berkat dari Tuhan. Rut berkenalan dengan Boas, pemilik banyak sawah dan masih kerabat almarhum suaminya. Boas melihat kesetiaan dan kebaikan Rut, sehingga hatinya tertarik untuk mengambil Rut menjadi istrinya.
Rut bukan hanya menjadi istri Boas, tetapi juga melahirkan anak yang nantinya menjadi leluhur Tuhan Yesus Kristus. Itulah upah yang pantas bagi orang yang setia dan menunjukkan kebaikan di dalam hidupnya. (esg)

Kesetiaan dan Kebaikan
Akan Mendatangkan Kesenangan

 

 

Renungan Harian, Senin, 01 April 2013

Senin, 01 April 2013
Tak Setia Menderita
Rut 1: 1--5
Pada zaman para hakim memerintah ada kelaparan di tanah Israel. Lalu pergilah seorang dari Betlehem-Yehuda beserta isterinya dan kedua anaknya laki-laki ke daerah Moab untuk menetap di sana sebagai orang asing (ay. 1)

Seorang pemuda aktivis gereja kecewa terhadap teman-temannya yang dianggapnya kurang perhatian kepadanya ketika ia kena PHK dari tempatnya bekerja. Oleh karena itu, ia mulai menghindar dari gereja dan kegiatan pemuda gereja.
 
Seminggu, dua minggu, sebulan, dua bulan tidak ke gereja dan tidak mengikuti persekutuan pemuda membuat hati pemuda ini menjadi kering. Oleh karena itu, ia mulai ikut-ikutan dengan teman-teman masa remajanya. Mereka menghabiskan malam minggu mereka dengan minum-minuman keras dan kebut-kebutan.

Pada satu malam minggu, ketika mereka sedang mengadakan acara kebut-kebutan, tiba-tiba polisi datang dan menangkapi mereka. Anak muda ini segera melarikan motornya dengan kecepatan tinggi. Akan tetapi, di sebuah tikungan, ia tidak bisa mengontrol motornya. Motornya tergelincir menghantam pohon kayu, sedangkan ia sendiri meluncur di aspal dan menghantam trotoar jalan. Ia mengalami luka serius, tetapi nyawanya dapat diselamatkan.

Meninggalkan persekutuan dengan Tuhan karena persoalan hanya akan menambah persoalan. Itulah yang terjadi pada Elimelekh. Oleh karena ada kelaparan di Israel, maka ia meninggalkan Bethlehem dan pergi ke negeri asing, Moab. Tadinya tujuannya untuk mendapatkan kehidupan, tetapi yang didapatkan hanyalah kematian. Ia sendiri mati di Moab. Dua anak laki-lakinya pun mati juga.

Dari limat ayat yang kita baca, kita menemukan dua kata yang bisa diperbandingkan, yaitu kata kelaparan dan dua kali kata kematian. Ini artinya bahwa bersama dengan Tuhan bisa saja kelaparan, tetapi kalau menjauh dari Tuhan maka yang didapatkan adalah kematian dan kematian.

Sahabat Sinalsal, Firman Tuhan yang kita baca hari ini mendorong kita untuk tetap setia kepada Tuhan walaupun menghadapi berbagai ‘kelaparan’ karena kalau kita bertahan, Tuhan akan segera memberi pertolongan. (esg)

Bersama Tuhan Mungkin Kelaparan
Tetapi Meninggalkan Tuhan Berarti Kematian
 

22 Mar 2013

Renungan Harian, Jumat, 23 Maret 2013

Jumat, 22 Maret 2013
Hidup Karena Percaya
2 Korintus 5:1-10

 “Sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat.” (Ay. 7)


            Rasul Paulus mengungkapkan kepada jemaat Korintus, suatu bentuk keyakinan atau pengharapan yang luar biasa. Dimana Rasul Paulus menyakini bahwa Allah mempersiapkan mereka untuk nanti menempati suatu tempat kediaman yang kekal di Sorga, yang tidak dibuat oleh tangan manusia. Dan juga Allah mengaruniakan Roh kepada mereka sebagai jaminan segala sesuatu yang telah disediakan bagi mereka.

            Keyakinan itulah yang membuat Rasul Paulus dkk. tidak tawar hati sekalipun mereka masih berada dalam kemah dan tubuh dunia ini. Meskipun tantangan pelayanan mereka sangat berat, hati mereka senantiasa tabah. Karena hidup mereka adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat. Itulah yang memotivasi mereka.

            Sahabat sinalsal yang terkasih, melihat dan menghadapi tantangan kehidupan yang semakin sulit ini, membuat sebagian orang tidak berani lagi hidup. Sehingga mereka memilih untuk mengakhiri kehidupannya. Mereka memiliki terlalu banyak alasan untuk mengakhiri kehidupannya dan tidak memiliki satu alasan pun untuk tetap berjuang. Karena mereka tidak memiliki pengharapan dan pegangan hidup seperti yang dimiliki oleh Rasul Paulus dkk.

            Sebagai anak-anak Tuhan kita harus berbeda. Karena itu, mari kita belajar dari Rasul Paulus dkk-nya yang memiliki keyakinan yang luar biasa. Bahwa kehidupan yang penuh dengan beban berat di dunia yang kita tempati ini, hanya bersifat sementara. Tuhan sudah mempersiapkan suatu tempat di sorga dan menyediakan segala sesuatu yang terbaik bagi kita. Bukankah kita juga telah menerima Roh-Nya sebagai  jaminan bagi kita? Jika kita berani meyakini hal tersebut, maka kita pasti tabah menjalani kehidupan ini. Kita tidak akan tawar hati menghadapi tantangan-tantangan di depan kita. Sebab kita punya pengharapan yang pasti di dalam Kristus, dan pengharapan kita kepada-Nya tidak akan mengecewakan.(asw)


Pengharapan kepada Janji Kristus
Memberikan seribu alasan untuk hidup

20 Mar 2013

Renungan Harian, Kamis, 21 Maret 2013

Kamis, 21 Maret 2013
Harta Dalam Bejana
II Korintus 4: 1--15

Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami (ay. 7)


Ada dua ciri utama gereja mula-mula. Satu, daya sebar yang istimewa dan dua, daya tahan yang luar biasa. Dengan keterbatasan sarana, Injil bisa dibawa dari Yerusalem ke Roma dan ke ujung-ujung bumi. Walaupuan ditekan dan diancam nyawa, mereka tetap bertahan dengan ketabahan yang mengagumkan.

Darimanakah daya sebar dan daya tahan yang mereka miliki itu? Rasul Paulus memberikan jawaban bahwa kekuatan itu bukan berasal dari diri mereka sendiri, melainkan berasal dari Allah. Inilah harta dalam bejana yang dimiliki oleh Rasul Paulus dan orang percaya mula-mula.

Rasul Paulus tidak pernah sepi dari ancaman dan kesulitan, tidak pernah sepi dari kritikan dan hinaan, dan tidak pernah sepi dari kekurangan dan keterbatasan. Sangat sering ia kelaparan dan kedinginan dalam perjalanan pelayanan. Tetapi, semangatnya untuk memberitakan Injil tidak pernah berkurang.

Rasul Paulus mengatakan bahwa dia senantiasa membawa kematian Kristus di dalam tubuh mereka, sehingga mereka Yesus Kristus yang hidup nyata juga di dalam pelayanannya. Inilah rahasia pelayanan yang luar biasa. Bila kita mengingat salib Tuhan Yesus, maka semua penderitaan kita menjadi tidak terasa apa-apa. Bila kita mengingat masih banyak orang yang hidup dalam kegelapan, maka semangat kita untuk memberitakan Injil akan berkobar kembali.

Sahabat Sinalsal, apa yang ada di dalam diri kita itulah yang akan tertampil juga dalam hidup kita. Bila harta dunia dan kesenangan dunia sudah mengisi hati kita, maka kesediaan untuk berkorban bagi Tuhan Yesus akan tipis dalam hidup kita. Akan tetapi, bila salibnya dan kematian-Nya selalu ada di hati kita, maka semangat dan kekuatan yang luar biasa akan nyata di dalam hidup kita.

Oleh karena itu, marilah kita senantiasa memiliki harta dalam bejana tanah liat dengan menjadikan salib dan kematian Tuhan Yesus menghiasai hati kita. (esg)


Kematian Tuhan di dalam Hati Kita
Kekuatan Tuhan di dalam Hidup Kita

Renungan Harian, Rabu, 20 Maret 2013


Rabu, 20 Maret 2013

Surat-surat Kristus

2 Korintus 3:1-18


Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal

dan yang dapat dibaca oleh semua orang (ay. 2).

                                                                                              

Rasul Paulus berkata bahwa orang-orang yang sudah mereka layani menjadi kebanggaan dalam hati mereka. Sebab, bagi Allah Paulus dkk adalah bau yang harum dari Kristus di tengah-tengah mereka yang diselamatkan (2 Kor. 2:15). Itulah sebabnya Rasul Paulus berkata: “Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang” (ay. 2).


Dijelaskan juga bahwa karena pelayanan Paulus dkk-lah, jemaat Korintus menjadi orang-orang yang memiliki surat-surat Kristus yang tertulis dalam hati mereka oleh Roh. Artinya, jemaat Korintus menjadi orang-orang yang memiliki Roh Kudus yang hidup dan bekerja dalam diri mereka. Roh Kudus menjadi tuan yang memerintah dalam hidup mereka (ay. 3). Dan Roh itu adalah kemuliaan. Tentu saja, jika Roh Kudus yang memerintah hidup mereka, pastilah kehidupan mereka menunjukkan gambaran Kristus yang membawa kepada kemuliaan.


Saudara, siapa yang tidak bangga jika orang yang kita layani hidup dalam kebenaran firman Tuhan, bertumbuh terus menuju kesempurnaan dan hidupnya penuh dengan kemuliaan. Itulah yang dilihat dan menjadi kebanggaan bagi Rasul Paulus dkk. Dan juga ditambah dengan keyakinan bahwa kemuliaan yang lebih besar juga menyertai pelayanan mereka seperti yang dialami oleh Musa.


Sahabat Sinalsal yang terkasih, semua kita tahu bahwa ketika kita percaya kepada Kristus, Roh Kudus dimateraikan dalam hati kita (Ef. 1:13). Artinya, kita juga sudah memiliki firman yang hidup (dalam bentuk Roh) di dalam diri kita. Jika kita mau diperintah oleh Roh itu, maka hidup kita pun pasti mengalami pertumbuhan serta diliputi senantiasa oleh kemuliaan Kristus. Dari sikap hidup yang dipimpin oleh Roh, maka orang-orang sekitar kita dapat membaca bahwa kita adalah pengikut Kristus. Hidup kita pasti termulia. (asw)



Hidup yang dipimpin oleh Roh

Membawa kepada kemuliaan Kristus

18 Mar 2013

Renungan Harian, Selasa, 19 Maret 2013

Minggu, 19 Maret 2013
Ampuni Yang Sudah Sadar
II Korintus 2: 5--11

Bagi orang yang demikian sudahlah cukup tegoran dari sebagian besar dari kamu,
sehingga kamu sebaliknya harus mengampuni dan menghibur dia, supaya ia jangan binasa oleh kesedihan yang terlampau berat (ay. 6, 7)


Seorang wanita 30-an tahun ditemukan bunuh diri dengan menggantung dirinya di pintu belakang rumahnya. Polisi segera turun tangan dan mengadakan pemeriksaan. Setelah dipastikan bahwa yang bersangkutan bukan dibunuh, melainkan bunuh diri, maka polisi segerah menyerahkan jenazah kepada keluarga.

Bisik-bisik di antara jemaat bahwa kematian wanita itu akibat depresi yang sangat hebat. Karena sudah sekian tahun tidak memperoleh anak, maka suaminya, tanpa setahunya, berhubungan dengan seorang perempuan tanpa ikatan resmi. Tujuannya supaya mendapat anak dan setelah anak itu didapat, maka ia akan memisahkan diri dari wanita itu.

Pihak gereja mengetahui hal itu dan memberi sanksi. Sanksinya ialah keluarga itu didisiplin dengan tidak boleh mengikuti perjamuan kudus dan lain-lain. Yang lebih berat lagi ialah sanksi dari masyarakat. Teman-temannya menjauh darinya dan bahkan ia tidak lagi diikutkan dalam berbagai kegiatan gereja. Hal itulah yang membuat sangat terpukul.

Gereja Korintus menghadapi kasus yang hampir sama. Ada jemaat yang berbuat salah dan mendapat sanksi dari gereja. Tentu saja orang yang terkena sanksi itu menjadi terpukul dan merasa malu. Oleh karena itu, Rasul Paulus meminta supaya jemaat jangan menambah rasa malu orang tersebut dengan menghindarinya. Orang itu harus diampuni dan dikuatkan, sehingga tetap setia kepada Tuhan.

Sahabat Sinalsal, gereja harus menjaga supaya jangan sampai ada anggota jemaat yang bunuh diri karena rasa malu dan rasa tertekan yang begitu hebat. Gereja bukan kumpulan penghukum, melainkan kumpulan penghibur dan penyembuh. Orang yang salah tetap diberi sanksi oleh gereja, tetapi warga gereja memberi dukungan bukan hukuman tambahan.

Mari kita menjaga gereja kita agar tetap sebagai keluarga yang saling menguatkan satu dengan yang lain. (esg)
                                                                       
Gereja Adalah Komunitas Penyembuh
Yang Lemah Dibuat Teguh

Renungan Harian, Senin, 18 Maret 2013

Senin, 18 Maret 2013
Terhibur Untuk Menghibur
2 Korintus 1:3-11
Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam
 segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka,
 yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan
 penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah  (ay. 3b., 4).


Rasul Paulus menceritakan pengalamannya bersama dengan Timotius di dalam memberitakan Injil Kristus kepada banyak orang yang mereka jumpai di Asia kecil. Di dalam pemberitaan Injil tersebut, dikatakan bahwa beban yang ditanggungkan kepada mereka begitu besar dan begitu berat yang membuat mereka sampai putus asa. Dan bahkan dikatakan mereka merasa sudah dijatuhi hukuman mati (ay. 8,9).
      Di saat penderitaan berat menimpa mereka, maka Allah juga memberikan penghiburan. Inilah yang selalu menumbuhkan pengharapan baru bagi mereka. Sekalipun mereka katakan seperti dijatuhi hukuman mati, namun mereka dimampukan karena penghiburan yang mereka terima itu berasal dari Allah sendiri. Dan penghiburan dari Allah itu sekaligus menumbuhkan pengharapan karena pekerjaan Allah atas mereka mengingatkan mereka bahwa kekuatan yang mereka miliki itu berasal dari Allah semata-mata.
     Dan Allah tidak hanya menyelamatkan mereka di dunia ini saja tetapi juga Allah akan menyelamatkan mereka dari kematian kekal (ay. 9,10). Berdasarkan itulah, sekalipun mereka menanggung beban yang begitu berat serta berada dalam tantangan yang begitu besar, mereka tetap mampu memberikan penghiburan kepada jemaat di Korintus.
     Sahabat Sinalsal yang terkasih, mari kita belajar dari Rasul Paulus dan Timotius untuk tidak alergi terhadap penderitaan, apalagi penderitaan karena nama Kristus atau karena pemberitaan injil. Sebab, jika kita menderita karena nama Kristus, kita akan mendapat penghiburan dari Allah sendiri.
          Bayangkan saudara, Allah pencipta langit dan bumi langsung memberikan perhatian khusus kepada kita. Tentu hal itu sungguh istimewa, sehingga akhirnya akan menumbuhkan pengharapan baru juga bagi kita. Artinya, ada kekuatan yang luar biasa yang kita terima dari Tuhan sehingga kita dimampukan untuk dapat menghibur orang lain juga ditengah-tengah penderitaan yang kita alami. Luar biasa bukan? (asw)

Penderitaan karena nama Kristus
Memberikan pengharapan baru

14 Mar 2013

Renungan Harian, Kamis, 14 Maret 2013

Kamis, 14 Maret 2013
Yang Utama Kasih
(I Kor. 13: 1—13)
Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan, dan kasih, dan yang paling besar diantaranya ialah kasih (ayat 13).

            Pada suatu hari ada seorang ibu yang berdoa kepada Tuhan dengan menuntut, “Aku telah beriman kepada-Mu, aku taruhkan semua pengharapanku kepada-Mu, tapi kenapa aku masih saja tetap begini”. Doa atau pernyataan ini mungkin seringkali kita dengar sehingga tidak sedikit orang Kristen yang meninggalkan imannya dengan beralih kepada kepercayaan yang lain. Hal ini terjadi dikarenakan begitu banyak orang Kristen yang diisi dengan pengetahuan sehingga iman dan pengharapannya tidak terealisasi/terwujudkan dalam tindakan yang nyata yaitu kasih. Rasul Paulus berkata; “sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, sekalipun aku dapat bernubuat, sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna” (ayat 1-2).
            Ternyata kepintaran/pengetahuan dan iman yang membuahkan kuasa saja tidak cukup agar hidup kita berguna bagi kemuliaan Tuhan dan bagi orang di sekitar kita. Kasih adalah syarat mutlak yang harus ada sebagai bukti bahwa iman dan pengharapan kita benar-benar kepada Kristus. Kasih itu sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri, tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopan, tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah, tidak menyimpan kesalahan orang, tidak bersukacita karena ketidakadilan melainkan karena kebenaran. Kasih itu menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu, inilah kasih yang harus ada di dalam kehidupan kita sebagai bukti bahwa Kristus ada di dalam kita.
            Semua akan berakhir, tetapi kasih tidak akan pernah berakhir. Kita tidak bisa berkata sebagian kasih yang tertulis di atas tadi sudah ada tetapi sebagian lagi belum. Bagian mana yang belum ada di dalam kita atau belum bisa kita laksanakan, maka ingatlah bahwa yang utama di dalam kehidupan kita sebagai orang percaya adalah kasih. Kita harus mengusahakan dan meminta kekuatan dari Tuhan untuk mewujudkan kasih di dalam kehidupan kita; dimanapun, dalam situasi bagaimanapun, dan kepada siapapun.(jul)

Semua akan berakhir dan lenyap, tetapi kasih tidak akan berakhir
Mari kita tanam dan pupuk kasih di antara kita
 

 

13 Mar 2013

Renungan Harian, Rabu, 13 Maret 2013

Rabu, 13 Maret 2013
Hormati Yang Tak Terhormat
I Korintus 12: 12--31

Hal itu tidak dibutuhkan oleh anggota-anggota kita yang elok. Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus, (ay. 24)


Suatu kali, saya berada di satu lantai supermarket untuk membeli lap mobil. Di satu rak, bertebaran tube-tube lap mobil dari berbagai merek. Saya memperhatikan satu per satu untuk mendapatkan lap yang saya inginkan. Tiba-tiba pelayan yang sedang membereskan barang-barang di dekat saya berkata, “Om, kalau lap yang bagus ada di kasir.” “O, ya, terima kasih, ya,” balas saya sambil berjalan ke arah kasir.

     Di sebelah kasir ada rak kaca dan di dalamnya tersusun rapi lap-lap dari satu merek. “Kenapa dipisah,” tanya saya. “Ini yang mahal, Pak. Yang di sana yang biasa,” jawab kasir. Saya jadi tahu bahwa lap yang mahal disusun di tempat yang bagus, sedangkan lap yang biasa dibiarkan saja berserakan di rak besar.

     Kalau ajaran Tuhan Yesus berbeda. Di dalam gereja, para pejabat, pengusaha, dan orang-orang sukses lainnya akan diperlakukan biasa, sedangkan orang-orang biasa akan diperlakukan secara istimewa. Inilah ajaran Tuhan Yesus yang harus diterapkan oleh gereja sepanjang masa.

      Ajaran ini bukan hanya terdapat di kitab Korintus, tetapi juga di Roma 15 (anggota yang kuat wajib menolong anggota yang lemah). Mengapa gereja perlu mengistimewakan orang-orang biasa? Jawabannya ialah supaya tidak terjadi perpecahan dan supaya semua anggota saling memperhatikan.

      Orang-orang sukses tidak butuh perhatian, tetapi orang-orang yang gagal atau kurang beruntung sangat membutuhkan perhatian. Mereka inilah yang harus gereja perhatikan. Gereja juga perlu mendorong orang sukses untuk memperhatikan orang yang kurang sukses, karena hal itu akan membuat hidup orang sukses menjadi lebih indah.

      Sahabat Sinalsal, ajaran ini memang jelas, tetapi jelas juga belum bisa diterapkan. Oleh karena itu, marilah kita mulai dari diri kita sendiri. Janganlah kita menuntut perhatian, tetapi usahakanlah memberi perhatian kepada saudara-saudara kita di gereja yang sedang membutuhkan perhatian kita. (esg)



Ajaran Untuk Gereja
Istimewakan Anggota Yang Biasa


12 Mar 2013

Renungan Harian, Selasa, 12 Maret 2013

Selasa, 12 Maret 2013
Aturan dalam Kebaktian
(I Kor. 11: 2—16)
Tetapi jika ada orang yang mau membantah, kami maupun jemaat-jemaat Allah tidak mempunyai kebiasaan yang demikian (ayat 16).

Dimanapun kita berada, maka di sana ada aturan dan setiap yang melakukan aturan tersebut maka ia akan selamat. Seperti halnya di jalan raya, begitu banyak aturan-aturan/rambu lalu lintas yang tertera di setiap jalan, semua ini berguna agar setiap pemakai jalan raya beroleh keselamatan. Begitu banyaknya terjadi kecelakaan lalu lintas khususnya pada hari-hari besar, seperti Natal, Lebaran, dll, dikarenakan ketidaktaatan pemakai jalan terhadap setiap aturan yang ada. Demikian pula di dalam kebaktian, kita harus menyadari bahwa kita menghadap kepada Tuhan; Raja di atas segala raja yang menciptakan dan memiliki alam semesta. Untuk memasuki keraton sultan di Jogjakarta saja kita harus tunduk terhadap aturan yang ada, jika tidak kita akan diusir ke luar.

Pada nats ini, Paulus lebih menitikberatkan peringatannya kepada perempuan sebab  seringkali tempat kebaktian bukan lagi tempat yang sakral, melainkan saat ini kebaktian menjadi ajang show; perhiasan, pakaian, bahkan pakaian-pakaian yang tidak pantas dipakai pun sekarang sudah marak di dalam kebaktian. Jadi, kita sebagai perempuan marilah kita jaga kekudusan dan kesakralan setiap tempat kebaktian sebab Allah hadir di sana. Aturan-autran yang ada di dalam kebaktian diberlakukan untuk kepentingan kita sebab setiap manusia harus hidup dengan aturan, tanpa aturan manusia akan hancur.

Jika kita sadar akan aturan yang ada dalam kebaktian, maka marilah kita laksanakan untuk menghormati Tuhan. Saat ini apa yang bisa kita tunjukkan sebagai bukti hormat kita kepada Tuhan? Segala sesuatu harus kita persiapkan dengan baik; pakaian untuk ibadah adalah pakaian yang khusus, persembahan adalah persembahan yang khusus, sikap dan penampilan yang sopan. Kita datang kepada Tuhan tidak boleh asal-asalan, sebab itu adalah sikap tidak hormat kepada Tuhan. Kita harus mengkhususkan semua yang mau kita bawa kepada Tuhan, mulai dari hidup kita sampai kepada persembahan kita karena Tuhan Yesus pun terlebih dahulu telah memberikan yang khusus bagi kita dan akan lebih lagi jika kita taat terhadap aturan kebaktian.(jer)

Aturan adalah jalan yang membawa kepada kebaikan

11 Mar 2013

Renungan Harian, Senin,11 Maret 2013

Senin, 11 Maret 2013
Jangan Mengulang Kesalahan
I Korintus 10: 1--13
Semuanya ini telah terjadi sebagai contoh bagi kita untuk memperingatkan kita, supaya jangan kita menginginkan hal-hal yang jahat seperti yang telah mereka perbuat, (ay. 6)

      Polisi lalu lintas menempatkan satu mobil yang sudah ringsek di tikungan jalan. Lalu, di dinding mobil itu ada tulisan, “Kalau Anda ngebut, berarti Anda ingin seperti ini.” Ini adalah salah satu cara polisi untuk memberi peringatan kepada setiap pengemudi agar berhati-hati dalam berkendaraan dan tidak mengebut.
Rasul Paulus pun punya cara yang hampir sama. Contoh yang diberikan ialah bangsa Israel yang berjalan menuju Tanah Kanaan. Ada dua hal yang ingin disampaikan oleh Rasul Paulus.
Satu, kejahatan yang dilakukan oleh orang Israe. Ada lima kejahatan yang mereka lakukan. Satu, menginginkan hal yang jahat; dua, menyembah berhala; tiga, percabulan; empat, mencobai Tuhan; lima, bersungut-sungut (ay. 6—10). Kelima jenis kejahatan ini tampaknya sedang atau berpotensi untuk dilakukan oleh orang Kristen Korintus. Itulah sebabnya, Rasul Paulus memberikan peringatan dengan memberikan contoh.
Dua, hukuman atas kejahatan. Tuhan Allah menghukum orang-orang Israel yang melakukan kejahatan itu. Misalnya, 23 ribu orang yang ditewaskan karena penyembahan berhala. Orang yang mencobai Tuhan dihukum dengan pagutan ular. Pokoknya, setiap kejahatan pasti dihukum oleh Tuhan.
Yang ingin disampaikan oleh Rasul Paulus kepada orang Korintus dan kepada kita hari ini ialah bahwa setiap perbuatan pasti ada ganjarannya. Perbuatan baik akan menuai berkat, sedangkan kejahatan akan mendatangkan hukuman. Oleh karena itu, setiap anak Tuhan harus menjauhi perbuatan jahat, supaya tidak mendapatkan hukuman dari Tuhan.
Sahabat Sinalsal, janganlah kita mengulang kesalahan yang pernah dilakukan oleh orang Israel dan orang Korintus supaya hidup kita berlimpah dengan berkat dan kemurahan Tuhan. Kita harus sadar bahwa perbuatan jahat hanya akan mendatangkan hukuman bagi kita. Oleh karena itu, marilah kita berlomba-lomba berbuat baik dalam hidup kita dan menuruti semua perintah Tuhan Yesus. (esg)


Setiap Kejahatan
Akan Diganjar Hukuman

9 Mar 2013

Renungan Harian Minggu, 10 Maret 2013

Minggu, 10 Maret 2013
Celakalah Aku!
(I Kor. 9: 15—18)
….Celakalah aku jika aku tidak memberitakan Injil (ayat 16b)

            Sebagai rasul, maka Paulus sebenarnya memiliki hak untuk memperoleh haknya sebagai rasul atau pelayan Tuhan, namun ia tidak menuntut haknya melainkan ia mengutamakan kewajibannya sebagai pengikut Kristus. Jika rasul-rasul atau pelayan-pelayan lain beroleh haknya, maka aku lebih lagi kata Paulus sebab ia mengerjakan semua pekerjaannya dengan kesungguhan dan melebihi orang lain. Saat ini begitu banyak orang yang menuntut haknya, sedangkan kewajibannya pun belum ia lakukan maksimal sehingga mengakibatkan KKN terjadi di hampir segala bidang/instansi pemerintahan.
            Kita harus belajar dari Rasul Paulus yang mengutamakan kewajibannya daripada haknya. Bukan ia mengabaikan haknya, melainkan celakalah ia jika ia lebih mengutamakan hak dari pada kewajibannya sebagai pekerja Kristus. Kewajiban yang ia emban sama dengan hutang yang harus ia lunasi, yakni memberitakan dan menyaksikan Injil. Rasul Paulus yakin, jika ia mengutamakan kewajibannya untuk terus memberitakan Injil, maka kata “celaka” tidak akan menimpa kehidupannya. Sekalipun kematian yang akan ia alami karena pemberitaan Injil, ia tidak menganggap itu sebuah kecelakaan, melainkan keuntungan.
            Sesuatu yang kita lakukan tidak di dalam nama Tuhan Yesus dan bukan untuk kemuliaan Tuhan Yesus, maka kecelakaan akan terbuka lebar di depan. Sebab segala sesuatu yang kita lakukan di luar Tuhan, berarti kita lakukan di dalam penguasaan iblis. Iblis tidak akan pernah membawa setip orang yang dikuasainya kepada damai sejahtera, melainkan kepada kecelakaan. Sahabat Sinalsal yang dikasihi Tuhan Yesus, marilah kita lakukan apapun di dalam nama Tuhan Yesus dan demi kemuliaan Tuhan Yesus, dengan demikian kita menutup kecelakaan-kecelakaan yang ada di manapun. Terlebih-lebih marilah kita terus memberitakan Injil, sebab disinilah letak kekuatan kita sebagai orang percaya. ((jer)

 
 Memberitakan Injil Adalah Kewajiban
Celakalah Yang Mengabaikan

Renungan Harian Sabtu, 09 Maret 2013

Sabtu, 09 Maret 2013
Bolehkah Semua?
I Korintus 8: 1--13
Tetapi jagalah, supaya kebebasanmu ini jangan menjadi batu sandungan bagi mereka yang lemah (ay. 9)

Seorang suami menegur istrinya karena mengenakan banyak perhiasan mahal di tubuhnya. “Kita mau ke kampung lihat ibu yang sakit. Apa kata saudara-saudara di kampung kalau kamu pakai perhiasan begitu? Mereka untuk makan saja susah.” Sang istri segera sadar bahwa memang haknya untuk memakai perhiasan miliknya sendiri, tetapi tidak ada gunanya ia memakainya di kampung.”
Inilah yang diajarkan oleh Rasul Paulus kepada orang Kristen di Korintus dan kepada kita juga hari ini. Di dalam Yesus Kristus kita bebas dan boleh melakukan apa saja. Kita bisa makan makanan apa saja, termasuk darah, kita boleh memakai obat apa saja, termasuk obat kampung, kita boleh duduk di mana saja, termasuk di bar, kita boleh menampilkan diri sesuka hati, seperti pakai mobil mewah atau pakai baju terbuka.
Akan tetapi, demi kesaksian atau demi memberkati orang lain, maka kita lebih kita membatasi diri. Bila ada yang tersandung kita makan darah, maka lebih baik tidak makan darah. Bila ada yang tersandung kita menggunakan obat kampung maka lebih baik kita tidak menggunakannya. Bila ada yang kurang sejahtera bila kita memakai pakaian terbuka dan perhiasan mahal, maka lebih baik kita tidak menggunakannya.
Firman Tuhan mendorong setiap orang percaya untuk lebih mengutamakan kesaksian daripada kebebasan. Menjadi batu sandungan adalah hal yang harus dihindarkan. Seorang teman penginjil tidak lagi makan daging B2 karena pelayanannya ke orang-orang yang tidak makan itu.
Sahabat Sinalsal, jelaslah bahwa Tuhan Yesus ingin kita keluar dari keegoisan, keingian untuk memuaskan diri sendiri ke arah sikap untuk mengutamakan kebaikan orang lain. Inilah yang harus kita perjuangkan di dalam hidup kita bagi kemuliaan nama Tuhan Yesus Kristus.
Oleh karena itu, mari kita mulai hari ini untuk tidak lagi mengutamakan kebebasan kita, tetapi kebaikan dan kesejahteraan saudara-saudara kita. (esg)

 Persembahkanlah Hak Saudara
Untuk Kebaikan Bersama

6 Mar 2013

Renungan Harian 07 Maret 2013


Kamis, 07 Maret 2013
Rela Rugi
I Korintus 6: 1--11
Adanya saja perkara di antara kamu yang seorang terhadap yang lain telah merupakan kekalahan bagi kamu. Mengapa kamu tidak lebih suka menderita ketidakadilan? Mengapakah kamu tidak lebih suka dirugikan? (ay. 7)
 
Saya mengajak kita untuk berimajinasi sejenak. Marilah bayangkan, kita menempatkan 10 orang Karo di satu villa dengan sepuluh kamar. Kita membuat kegiatan mereka dengan aturan-aturan tertentu. Lalu, di villa satu lagi, kita menempatkan 10 orang Jawa. Bagi mereka pun ditentukan kegiatan dan aturan-aturan yang berlaku.
Apa yang terjadi seminggu kemudian? Saya mencoba memberikan jawabnya. Sepuluh orang Karo menghadap panitia dan meminta supaya mereka dipindahkan atau teman mereka yang dipindahkan. Mengapa bisa demikian? Jawabnya, karena umumnya, kita tidak terbiasa mengalah atau tidak terbiasa dirugikan. Filosofi orang Karo “Lo terban tokohi kalak”.
Orang Karo tampaknya punya sifat yang tidak jauh berbeda dengan orang Yunani Korintus. Mereka yang satu gereja berselisih satu dengan yang lainnya. Oleh karena tidak ada penyelesaian, maka mereka membawakan masalah mereka ke pengadilan. Sekian lama, masalah mereka menjadi buah bibir masyarakat dan mereka menganggapnya biasa saja.
Sikap inilah yang dicela oleh Rasul Paulus. Dua hal yang tidak patut dilakukan oleh orang Kristen ialah berselisih tanpa penyelesaian. Salah satu penyelesaian yang paling rohani ialah rela dirugikan dan rela diperlakukan tidak adil. Tentu saja ini tidak mudah, tetapi inilah jalan paling rohani. Dua, mengandalkan pengadilan dunia. Orang percaya bukan tidak boleh ke pengadilan, tetapi mestinya gereja dapat menyelesaikan masalah yang terjadi di antara sesama anggota gereja.
Sahabat Sinalsal, rela dirugikan dan rela diperlakukan tidak adil adalah jalan untuk memuliakan nama Tuhan Yesus Kristus. Kita harus belajar percaya bahwa Tuhan Yesus akan membela hak kita dari sikap dan perbuatan orang tertentu yang berniat jahat kepada kita. Marilah kita belajar untuk menerima kerugian asal nama Tuhan Yesus diuntungkan dan rela diperlakukan tidak adil demi kemuliaan Tuhan Yesus. (esg)

 Inilah Tanda Iman
Rela Diperlakukan Tidak Adil dan Dirugikan