Mejuah-juah.  Selamat datang di blog sederhana kami: "Gereja Injili Karo Indonesia.   Gereja Injili Karo Indonesia(GIKI) adalah gereja yang mengintegrasikan INJIL dan budaya KARO, dengan membina sentralitas, sakralitas, dan ritualitas iman.   2K(KK): Kristus dan Karo! Kami mencintai Kristus dan Karo; Kami menyembah Kristus dengan budaya Karo.   Syalom ras Mejuah-juah man banta kerina... Adi Tuhan Yesus sijadiken palas bas tengah-tengah geluhta, maka megegeh kita mbentasi kegeluhen enda aminna pe lit kalisunggung i lebe-lebenta .... adi megermet kita kerna budayanta, maka meriah katawari pe ukurta sebab enterem temanta si banci nampati kita...Syaloom mejuah-juah. Tuhan Yesus memberkati.

9 Apr 2013

Renungan Harian, Minggu, 07 April 2013

Minggu, 07 April 2013
Setia Di Antara Pendosa
I Samuel 3: 1--21
Dan Samuel makin besar dan TUHAN menyertai dia dan tidak ada satu pun dari firman-Nya itu yang dibiarkan-Nya gugur. Maka tahulah seluruh Israel dari Dan sampai Bersyeba, bahwa kepada Samuel telah dipercayakan jabatan nabi TUHAN (ay. 19—20)

Kebaikan itu dapat dibagi ke dalam tiga tingkatan. Tingkatan yang paling rendah ialah kita tidak berbuat baik di tengah-tengah orang baik. Tingkatan kedua ialah kita berbuat baik di tengah-tengah lingkungan yang baik. Tingkatan yang paling tinggi ialah kita berbuat baik di tengah-tengah lingkungan yang tidak baik.
Kalau seseorang berbuat baik atau menjadi baik di tengah-tengah orang baik itu adalah hal yang biasa. Mengapa? Oleh karena, sikap dan perilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungannya. Bila berada di lingkungan baik, maka sewajarnyalah seseorang melakukan hal yang baik.
Akan tetapi, seorang muda yang bernama Samuel bisa tetap baik dan setia kepada Tuhan walaupun berada di rumah orang-orang jahat. Ia sejak bayi sudah berada di rumah Imam Eli. Imam Eli memang baik, tetapi dua anaknya sangat jahat, sehingga Firman Tuhan menyebutnya dursila.
Samuel berada di bawah kekuasaan dua anak Imam Eli, Hofni dan Pinehas. Pastilah Samuel muda sering melihat kelakuan buruk kedua imam tersebut. Barangkali, bukan hanya melihat, melainkan juga didorong oleh kedua imam itu untukberbuat sama seperti mereka. Ini sungguh keadaan yang tidak mudah.
Akan tetapi, Samuel memiliki ketetapan hati untuk senantiasa menghormati hukum Tuhan dan melakukannya dengan segenap hati. Walaupun pemimpinnya tidak melakukan, ia tidak mau mengikuti teladan jahat tersebut.
Itulah sebabnya, ketika Tuhan berbicara, hanya Samuel yang mendengar suara Tuhan. Mengapa? Oleh karena hati Samuel masih bersih dari segala kejahatan.
Sahabat Sinalsal, sekarang ini, kita berada di tengah masyarakat yang sudah tidak sehat lagi. Kita selalu disuguhi hal-hal yang jahat dan bahkan didorong juga untuk berbuat jahat. Marilah kita meneladani Samuel. Jagalah hati kita untuk tetap takut akan Tuhan dan menaati perintah-perintah-Nya. (esg)


Jagalah Hati
Untuk Tetap Suci

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar