Mejuah-juah.  Selamat datang di blog sederhana kami: "Gereja Injili Karo Indonesia.   Gereja Injili Karo Indonesia(GIKI) adalah gereja yang mengintegrasikan INJIL dan budaya KARO, dengan membina sentralitas, sakralitas, dan ritualitas iman.   2K(KK): Kristus dan Karo! Kami mencintai Kristus dan Karo; Kami menyembah Kristus dengan budaya Karo.   Syalom ras Mejuah-juah man banta kerina... Adi Tuhan Yesus sijadiken palas bas tengah-tengah geluhta, maka megegeh kita mbentasi kegeluhen enda aminna pe lit kalisunggung i lebe-lebenta .... adi megermet kita kerna budayanta, maka meriah katawari pe ukurta sebab enterem temanta si banci nampati kita...Syaloom mejuah-juah. Tuhan Yesus memberkati.

22 Mar 2013

Renungan Harian, Jumat, 23 Maret 2013

Jumat, 22 Maret 2013
Hidup Karena Percaya
2 Korintus 5:1-10

 “Sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat.” (Ay. 7)


            Rasul Paulus mengungkapkan kepada jemaat Korintus, suatu bentuk keyakinan atau pengharapan yang luar biasa. Dimana Rasul Paulus menyakini bahwa Allah mempersiapkan mereka untuk nanti menempati suatu tempat kediaman yang kekal di Sorga, yang tidak dibuat oleh tangan manusia. Dan juga Allah mengaruniakan Roh kepada mereka sebagai jaminan segala sesuatu yang telah disediakan bagi mereka.

            Keyakinan itulah yang membuat Rasul Paulus dkk. tidak tawar hati sekalipun mereka masih berada dalam kemah dan tubuh dunia ini. Meskipun tantangan pelayanan mereka sangat berat, hati mereka senantiasa tabah. Karena hidup mereka adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat. Itulah yang memotivasi mereka.

            Sahabat sinalsal yang terkasih, melihat dan menghadapi tantangan kehidupan yang semakin sulit ini, membuat sebagian orang tidak berani lagi hidup. Sehingga mereka memilih untuk mengakhiri kehidupannya. Mereka memiliki terlalu banyak alasan untuk mengakhiri kehidupannya dan tidak memiliki satu alasan pun untuk tetap berjuang. Karena mereka tidak memiliki pengharapan dan pegangan hidup seperti yang dimiliki oleh Rasul Paulus dkk.

            Sebagai anak-anak Tuhan kita harus berbeda. Karena itu, mari kita belajar dari Rasul Paulus dkk-nya yang memiliki keyakinan yang luar biasa. Bahwa kehidupan yang penuh dengan beban berat di dunia yang kita tempati ini, hanya bersifat sementara. Tuhan sudah mempersiapkan suatu tempat di sorga dan menyediakan segala sesuatu yang terbaik bagi kita. Bukankah kita juga telah menerima Roh-Nya sebagai  jaminan bagi kita? Jika kita berani meyakini hal tersebut, maka kita pasti tabah menjalani kehidupan ini. Kita tidak akan tawar hati menghadapi tantangan-tantangan di depan kita. Sebab kita punya pengharapan yang pasti di dalam Kristus, dan pengharapan kita kepada-Nya tidak akan mengecewakan.(asw)


Pengharapan kepada Janji Kristus
Memberikan seribu alasan untuk hidup

20 Mar 2013

Renungan Harian, Kamis, 21 Maret 2013

Kamis, 21 Maret 2013
Harta Dalam Bejana
II Korintus 4: 1--15

Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami (ay. 7)


Ada dua ciri utama gereja mula-mula. Satu, daya sebar yang istimewa dan dua, daya tahan yang luar biasa. Dengan keterbatasan sarana, Injil bisa dibawa dari Yerusalem ke Roma dan ke ujung-ujung bumi. Walaupuan ditekan dan diancam nyawa, mereka tetap bertahan dengan ketabahan yang mengagumkan.

Darimanakah daya sebar dan daya tahan yang mereka miliki itu? Rasul Paulus memberikan jawaban bahwa kekuatan itu bukan berasal dari diri mereka sendiri, melainkan berasal dari Allah. Inilah harta dalam bejana yang dimiliki oleh Rasul Paulus dan orang percaya mula-mula.

Rasul Paulus tidak pernah sepi dari ancaman dan kesulitan, tidak pernah sepi dari kritikan dan hinaan, dan tidak pernah sepi dari kekurangan dan keterbatasan. Sangat sering ia kelaparan dan kedinginan dalam perjalanan pelayanan. Tetapi, semangatnya untuk memberitakan Injil tidak pernah berkurang.

Rasul Paulus mengatakan bahwa dia senantiasa membawa kematian Kristus di dalam tubuh mereka, sehingga mereka Yesus Kristus yang hidup nyata juga di dalam pelayanannya. Inilah rahasia pelayanan yang luar biasa. Bila kita mengingat salib Tuhan Yesus, maka semua penderitaan kita menjadi tidak terasa apa-apa. Bila kita mengingat masih banyak orang yang hidup dalam kegelapan, maka semangat kita untuk memberitakan Injil akan berkobar kembali.

Sahabat Sinalsal, apa yang ada di dalam diri kita itulah yang akan tertampil juga dalam hidup kita. Bila harta dunia dan kesenangan dunia sudah mengisi hati kita, maka kesediaan untuk berkorban bagi Tuhan Yesus akan tipis dalam hidup kita. Akan tetapi, bila salibnya dan kematian-Nya selalu ada di hati kita, maka semangat dan kekuatan yang luar biasa akan nyata di dalam hidup kita.

Oleh karena itu, marilah kita senantiasa memiliki harta dalam bejana tanah liat dengan menjadikan salib dan kematian Tuhan Yesus menghiasai hati kita. (esg)


Kematian Tuhan di dalam Hati Kita
Kekuatan Tuhan di dalam Hidup Kita

Renungan Harian, Rabu, 20 Maret 2013


Rabu, 20 Maret 2013

Surat-surat Kristus

2 Korintus 3:1-18


Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal

dan yang dapat dibaca oleh semua orang (ay. 2).

                                                                                              

Rasul Paulus berkata bahwa orang-orang yang sudah mereka layani menjadi kebanggaan dalam hati mereka. Sebab, bagi Allah Paulus dkk adalah bau yang harum dari Kristus di tengah-tengah mereka yang diselamatkan (2 Kor. 2:15). Itulah sebabnya Rasul Paulus berkata: “Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang” (ay. 2).


Dijelaskan juga bahwa karena pelayanan Paulus dkk-lah, jemaat Korintus menjadi orang-orang yang memiliki surat-surat Kristus yang tertulis dalam hati mereka oleh Roh. Artinya, jemaat Korintus menjadi orang-orang yang memiliki Roh Kudus yang hidup dan bekerja dalam diri mereka. Roh Kudus menjadi tuan yang memerintah dalam hidup mereka (ay. 3). Dan Roh itu adalah kemuliaan. Tentu saja, jika Roh Kudus yang memerintah hidup mereka, pastilah kehidupan mereka menunjukkan gambaran Kristus yang membawa kepada kemuliaan.


Saudara, siapa yang tidak bangga jika orang yang kita layani hidup dalam kebenaran firman Tuhan, bertumbuh terus menuju kesempurnaan dan hidupnya penuh dengan kemuliaan. Itulah yang dilihat dan menjadi kebanggaan bagi Rasul Paulus dkk. Dan juga ditambah dengan keyakinan bahwa kemuliaan yang lebih besar juga menyertai pelayanan mereka seperti yang dialami oleh Musa.


Sahabat Sinalsal yang terkasih, semua kita tahu bahwa ketika kita percaya kepada Kristus, Roh Kudus dimateraikan dalam hati kita (Ef. 1:13). Artinya, kita juga sudah memiliki firman yang hidup (dalam bentuk Roh) di dalam diri kita. Jika kita mau diperintah oleh Roh itu, maka hidup kita pun pasti mengalami pertumbuhan serta diliputi senantiasa oleh kemuliaan Kristus. Dari sikap hidup yang dipimpin oleh Roh, maka orang-orang sekitar kita dapat membaca bahwa kita adalah pengikut Kristus. Hidup kita pasti termulia. (asw)



Hidup yang dipimpin oleh Roh

Membawa kepada kemuliaan Kristus

18 Mar 2013

Renungan Harian, Selasa, 19 Maret 2013

Minggu, 19 Maret 2013
Ampuni Yang Sudah Sadar
II Korintus 2: 5--11

Bagi orang yang demikian sudahlah cukup tegoran dari sebagian besar dari kamu,
sehingga kamu sebaliknya harus mengampuni dan menghibur dia, supaya ia jangan binasa oleh kesedihan yang terlampau berat (ay. 6, 7)


Seorang wanita 30-an tahun ditemukan bunuh diri dengan menggantung dirinya di pintu belakang rumahnya. Polisi segera turun tangan dan mengadakan pemeriksaan. Setelah dipastikan bahwa yang bersangkutan bukan dibunuh, melainkan bunuh diri, maka polisi segerah menyerahkan jenazah kepada keluarga.

Bisik-bisik di antara jemaat bahwa kematian wanita itu akibat depresi yang sangat hebat. Karena sudah sekian tahun tidak memperoleh anak, maka suaminya, tanpa setahunya, berhubungan dengan seorang perempuan tanpa ikatan resmi. Tujuannya supaya mendapat anak dan setelah anak itu didapat, maka ia akan memisahkan diri dari wanita itu.

Pihak gereja mengetahui hal itu dan memberi sanksi. Sanksinya ialah keluarga itu didisiplin dengan tidak boleh mengikuti perjamuan kudus dan lain-lain. Yang lebih berat lagi ialah sanksi dari masyarakat. Teman-temannya menjauh darinya dan bahkan ia tidak lagi diikutkan dalam berbagai kegiatan gereja. Hal itulah yang membuat sangat terpukul.

Gereja Korintus menghadapi kasus yang hampir sama. Ada jemaat yang berbuat salah dan mendapat sanksi dari gereja. Tentu saja orang yang terkena sanksi itu menjadi terpukul dan merasa malu. Oleh karena itu, Rasul Paulus meminta supaya jemaat jangan menambah rasa malu orang tersebut dengan menghindarinya. Orang itu harus diampuni dan dikuatkan, sehingga tetap setia kepada Tuhan.

Sahabat Sinalsal, gereja harus menjaga supaya jangan sampai ada anggota jemaat yang bunuh diri karena rasa malu dan rasa tertekan yang begitu hebat. Gereja bukan kumpulan penghukum, melainkan kumpulan penghibur dan penyembuh. Orang yang salah tetap diberi sanksi oleh gereja, tetapi warga gereja memberi dukungan bukan hukuman tambahan.

Mari kita menjaga gereja kita agar tetap sebagai keluarga yang saling menguatkan satu dengan yang lain. (esg)
                                                                       
Gereja Adalah Komunitas Penyembuh
Yang Lemah Dibuat Teguh

Renungan Harian, Senin, 18 Maret 2013

Senin, 18 Maret 2013
Terhibur Untuk Menghibur
2 Korintus 1:3-11
Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam
 segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka,
 yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan
 penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah  (ay. 3b., 4).


Rasul Paulus menceritakan pengalamannya bersama dengan Timotius di dalam memberitakan Injil Kristus kepada banyak orang yang mereka jumpai di Asia kecil. Di dalam pemberitaan Injil tersebut, dikatakan bahwa beban yang ditanggungkan kepada mereka begitu besar dan begitu berat yang membuat mereka sampai putus asa. Dan bahkan dikatakan mereka merasa sudah dijatuhi hukuman mati (ay. 8,9).
      Di saat penderitaan berat menimpa mereka, maka Allah juga memberikan penghiburan. Inilah yang selalu menumbuhkan pengharapan baru bagi mereka. Sekalipun mereka katakan seperti dijatuhi hukuman mati, namun mereka dimampukan karena penghiburan yang mereka terima itu berasal dari Allah sendiri. Dan penghiburan dari Allah itu sekaligus menumbuhkan pengharapan karena pekerjaan Allah atas mereka mengingatkan mereka bahwa kekuatan yang mereka miliki itu berasal dari Allah semata-mata.
     Dan Allah tidak hanya menyelamatkan mereka di dunia ini saja tetapi juga Allah akan menyelamatkan mereka dari kematian kekal (ay. 9,10). Berdasarkan itulah, sekalipun mereka menanggung beban yang begitu berat serta berada dalam tantangan yang begitu besar, mereka tetap mampu memberikan penghiburan kepada jemaat di Korintus.
     Sahabat Sinalsal yang terkasih, mari kita belajar dari Rasul Paulus dan Timotius untuk tidak alergi terhadap penderitaan, apalagi penderitaan karena nama Kristus atau karena pemberitaan injil. Sebab, jika kita menderita karena nama Kristus, kita akan mendapat penghiburan dari Allah sendiri.
          Bayangkan saudara, Allah pencipta langit dan bumi langsung memberikan perhatian khusus kepada kita. Tentu hal itu sungguh istimewa, sehingga akhirnya akan menumbuhkan pengharapan baru juga bagi kita. Artinya, ada kekuatan yang luar biasa yang kita terima dari Tuhan sehingga kita dimampukan untuk dapat menghibur orang lain juga ditengah-tengah penderitaan yang kita alami. Luar biasa bukan? (asw)

Penderitaan karena nama Kristus
Memberikan pengharapan baru

14 Mar 2013

Renungan Harian, Kamis, 14 Maret 2013

Kamis, 14 Maret 2013
Yang Utama Kasih
(I Kor. 13: 1—13)
Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan, dan kasih, dan yang paling besar diantaranya ialah kasih (ayat 13).

            Pada suatu hari ada seorang ibu yang berdoa kepada Tuhan dengan menuntut, “Aku telah beriman kepada-Mu, aku taruhkan semua pengharapanku kepada-Mu, tapi kenapa aku masih saja tetap begini”. Doa atau pernyataan ini mungkin seringkali kita dengar sehingga tidak sedikit orang Kristen yang meninggalkan imannya dengan beralih kepada kepercayaan yang lain. Hal ini terjadi dikarenakan begitu banyak orang Kristen yang diisi dengan pengetahuan sehingga iman dan pengharapannya tidak terealisasi/terwujudkan dalam tindakan yang nyata yaitu kasih. Rasul Paulus berkata; “sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, sekalipun aku dapat bernubuat, sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna” (ayat 1-2).
            Ternyata kepintaran/pengetahuan dan iman yang membuahkan kuasa saja tidak cukup agar hidup kita berguna bagi kemuliaan Tuhan dan bagi orang di sekitar kita. Kasih adalah syarat mutlak yang harus ada sebagai bukti bahwa iman dan pengharapan kita benar-benar kepada Kristus. Kasih itu sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri, tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopan, tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah, tidak menyimpan kesalahan orang, tidak bersukacita karena ketidakadilan melainkan karena kebenaran. Kasih itu menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu, inilah kasih yang harus ada di dalam kehidupan kita sebagai bukti bahwa Kristus ada di dalam kita.
            Semua akan berakhir, tetapi kasih tidak akan pernah berakhir. Kita tidak bisa berkata sebagian kasih yang tertulis di atas tadi sudah ada tetapi sebagian lagi belum. Bagian mana yang belum ada di dalam kita atau belum bisa kita laksanakan, maka ingatlah bahwa yang utama di dalam kehidupan kita sebagai orang percaya adalah kasih. Kita harus mengusahakan dan meminta kekuatan dari Tuhan untuk mewujudkan kasih di dalam kehidupan kita; dimanapun, dalam situasi bagaimanapun, dan kepada siapapun.(jul)

Semua akan berakhir dan lenyap, tetapi kasih tidak akan berakhir
Mari kita tanam dan pupuk kasih di antara kita
 

 

13 Mar 2013

Renungan Harian, Rabu, 13 Maret 2013

Rabu, 13 Maret 2013
Hormati Yang Tak Terhormat
I Korintus 12: 12--31

Hal itu tidak dibutuhkan oleh anggota-anggota kita yang elok. Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus, (ay. 24)


Suatu kali, saya berada di satu lantai supermarket untuk membeli lap mobil. Di satu rak, bertebaran tube-tube lap mobil dari berbagai merek. Saya memperhatikan satu per satu untuk mendapatkan lap yang saya inginkan. Tiba-tiba pelayan yang sedang membereskan barang-barang di dekat saya berkata, “Om, kalau lap yang bagus ada di kasir.” “O, ya, terima kasih, ya,” balas saya sambil berjalan ke arah kasir.

     Di sebelah kasir ada rak kaca dan di dalamnya tersusun rapi lap-lap dari satu merek. “Kenapa dipisah,” tanya saya. “Ini yang mahal, Pak. Yang di sana yang biasa,” jawab kasir. Saya jadi tahu bahwa lap yang mahal disusun di tempat yang bagus, sedangkan lap yang biasa dibiarkan saja berserakan di rak besar.

     Kalau ajaran Tuhan Yesus berbeda. Di dalam gereja, para pejabat, pengusaha, dan orang-orang sukses lainnya akan diperlakukan biasa, sedangkan orang-orang biasa akan diperlakukan secara istimewa. Inilah ajaran Tuhan Yesus yang harus diterapkan oleh gereja sepanjang masa.

      Ajaran ini bukan hanya terdapat di kitab Korintus, tetapi juga di Roma 15 (anggota yang kuat wajib menolong anggota yang lemah). Mengapa gereja perlu mengistimewakan orang-orang biasa? Jawabannya ialah supaya tidak terjadi perpecahan dan supaya semua anggota saling memperhatikan.

      Orang-orang sukses tidak butuh perhatian, tetapi orang-orang yang gagal atau kurang beruntung sangat membutuhkan perhatian. Mereka inilah yang harus gereja perhatikan. Gereja juga perlu mendorong orang sukses untuk memperhatikan orang yang kurang sukses, karena hal itu akan membuat hidup orang sukses menjadi lebih indah.

      Sahabat Sinalsal, ajaran ini memang jelas, tetapi jelas juga belum bisa diterapkan. Oleh karena itu, marilah kita mulai dari diri kita sendiri. Janganlah kita menuntut perhatian, tetapi usahakanlah memberi perhatian kepada saudara-saudara kita di gereja yang sedang membutuhkan perhatian kita. (esg)



Ajaran Untuk Gereja
Istimewakan Anggota Yang Biasa


12 Mar 2013

Renungan Harian, Selasa, 12 Maret 2013

Selasa, 12 Maret 2013
Aturan dalam Kebaktian
(I Kor. 11: 2—16)
Tetapi jika ada orang yang mau membantah, kami maupun jemaat-jemaat Allah tidak mempunyai kebiasaan yang demikian (ayat 16).

Dimanapun kita berada, maka di sana ada aturan dan setiap yang melakukan aturan tersebut maka ia akan selamat. Seperti halnya di jalan raya, begitu banyak aturan-aturan/rambu lalu lintas yang tertera di setiap jalan, semua ini berguna agar setiap pemakai jalan raya beroleh keselamatan. Begitu banyaknya terjadi kecelakaan lalu lintas khususnya pada hari-hari besar, seperti Natal, Lebaran, dll, dikarenakan ketidaktaatan pemakai jalan terhadap setiap aturan yang ada. Demikian pula di dalam kebaktian, kita harus menyadari bahwa kita menghadap kepada Tuhan; Raja di atas segala raja yang menciptakan dan memiliki alam semesta. Untuk memasuki keraton sultan di Jogjakarta saja kita harus tunduk terhadap aturan yang ada, jika tidak kita akan diusir ke luar.

Pada nats ini, Paulus lebih menitikberatkan peringatannya kepada perempuan sebab  seringkali tempat kebaktian bukan lagi tempat yang sakral, melainkan saat ini kebaktian menjadi ajang show; perhiasan, pakaian, bahkan pakaian-pakaian yang tidak pantas dipakai pun sekarang sudah marak di dalam kebaktian. Jadi, kita sebagai perempuan marilah kita jaga kekudusan dan kesakralan setiap tempat kebaktian sebab Allah hadir di sana. Aturan-autran yang ada di dalam kebaktian diberlakukan untuk kepentingan kita sebab setiap manusia harus hidup dengan aturan, tanpa aturan manusia akan hancur.

Jika kita sadar akan aturan yang ada dalam kebaktian, maka marilah kita laksanakan untuk menghormati Tuhan. Saat ini apa yang bisa kita tunjukkan sebagai bukti hormat kita kepada Tuhan? Segala sesuatu harus kita persiapkan dengan baik; pakaian untuk ibadah adalah pakaian yang khusus, persembahan adalah persembahan yang khusus, sikap dan penampilan yang sopan. Kita datang kepada Tuhan tidak boleh asal-asalan, sebab itu adalah sikap tidak hormat kepada Tuhan. Kita harus mengkhususkan semua yang mau kita bawa kepada Tuhan, mulai dari hidup kita sampai kepada persembahan kita karena Tuhan Yesus pun terlebih dahulu telah memberikan yang khusus bagi kita dan akan lebih lagi jika kita taat terhadap aturan kebaktian.(jer)

Aturan adalah jalan yang membawa kepada kebaikan

11 Mar 2013

Renungan Harian, Senin,11 Maret 2013

Senin, 11 Maret 2013
Jangan Mengulang Kesalahan
I Korintus 10: 1--13
Semuanya ini telah terjadi sebagai contoh bagi kita untuk memperingatkan kita, supaya jangan kita menginginkan hal-hal yang jahat seperti yang telah mereka perbuat, (ay. 6)

      Polisi lalu lintas menempatkan satu mobil yang sudah ringsek di tikungan jalan. Lalu, di dinding mobil itu ada tulisan, “Kalau Anda ngebut, berarti Anda ingin seperti ini.” Ini adalah salah satu cara polisi untuk memberi peringatan kepada setiap pengemudi agar berhati-hati dalam berkendaraan dan tidak mengebut.
Rasul Paulus pun punya cara yang hampir sama. Contoh yang diberikan ialah bangsa Israel yang berjalan menuju Tanah Kanaan. Ada dua hal yang ingin disampaikan oleh Rasul Paulus.
Satu, kejahatan yang dilakukan oleh orang Israe. Ada lima kejahatan yang mereka lakukan. Satu, menginginkan hal yang jahat; dua, menyembah berhala; tiga, percabulan; empat, mencobai Tuhan; lima, bersungut-sungut (ay. 6—10). Kelima jenis kejahatan ini tampaknya sedang atau berpotensi untuk dilakukan oleh orang Kristen Korintus. Itulah sebabnya, Rasul Paulus memberikan peringatan dengan memberikan contoh.
Dua, hukuman atas kejahatan. Tuhan Allah menghukum orang-orang Israel yang melakukan kejahatan itu. Misalnya, 23 ribu orang yang ditewaskan karena penyembahan berhala. Orang yang mencobai Tuhan dihukum dengan pagutan ular. Pokoknya, setiap kejahatan pasti dihukum oleh Tuhan.
Yang ingin disampaikan oleh Rasul Paulus kepada orang Korintus dan kepada kita hari ini ialah bahwa setiap perbuatan pasti ada ganjarannya. Perbuatan baik akan menuai berkat, sedangkan kejahatan akan mendatangkan hukuman. Oleh karena itu, setiap anak Tuhan harus menjauhi perbuatan jahat, supaya tidak mendapatkan hukuman dari Tuhan.
Sahabat Sinalsal, janganlah kita mengulang kesalahan yang pernah dilakukan oleh orang Israel dan orang Korintus supaya hidup kita berlimpah dengan berkat dan kemurahan Tuhan. Kita harus sadar bahwa perbuatan jahat hanya akan mendatangkan hukuman bagi kita. Oleh karena itu, marilah kita berlomba-lomba berbuat baik dalam hidup kita dan menuruti semua perintah Tuhan Yesus. (esg)


Setiap Kejahatan
Akan Diganjar Hukuman

9 Mar 2013

Renungan Harian Minggu, 10 Maret 2013

Minggu, 10 Maret 2013
Celakalah Aku!
(I Kor. 9: 15—18)
….Celakalah aku jika aku tidak memberitakan Injil (ayat 16b)

            Sebagai rasul, maka Paulus sebenarnya memiliki hak untuk memperoleh haknya sebagai rasul atau pelayan Tuhan, namun ia tidak menuntut haknya melainkan ia mengutamakan kewajibannya sebagai pengikut Kristus. Jika rasul-rasul atau pelayan-pelayan lain beroleh haknya, maka aku lebih lagi kata Paulus sebab ia mengerjakan semua pekerjaannya dengan kesungguhan dan melebihi orang lain. Saat ini begitu banyak orang yang menuntut haknya, sedangkan kewajibannya pun belum ia lakukan maksimal sehingga mengakibatkan KKN terjadi di hampir segala bidang/instansi pemerintahan.
            Kita harus belajar dari Rasul Paulus yang mengutamakan kewajibannya daripada haknya. Bukan ia mengabaikan haknya, melainkan celakalah ia jika ia lebih mengutamakan hak dari pada kewajibannya sebagai pekerja Kristus. Kewajiban yang ia emban sama dengan hutang yang harus ia lunasi, yakni memberitakan dan menyaksikan Injil. Rasul Paulus yakin, jika ia mengutamakan kewajibannya untuk terus memberitakan Injil, maka kata “celaka” tidak akan menimpa kehidupannya. Sekalipun kematian yang akan ia alami karena pemberitaan Injil, ia tidak menganggap itu sebuah kecelakaan, melainkan keuntungan.
            Sesuatu yang kita lakukan tidak di dalam nama Tuhan Yesus dan bukan untuk kemuliaan Tuhan Yesus, maka kecelakaan akan terbuka lebar di depan. Sebab segala sesuatu yang kita lakukan di luar Tuhan, berarti kita lakukan di dalam penguasaan iblis. Iblis tidak akan pernah membawa setip orang yang dikuasainya kepada damai sejahtera, melainkan kepada kecelakaan. Sahabat Sinalsal yang dikasihi Tuhan Yesus, marilah kita lakukan apapun di dalam nama Tuhan Yesus dan demi kemuliaan Tuhan Yesus, dengan demikian kita menutup kecelakaan-kecelakaan yang ada di manapun. Terlebih-lebih marilah kita terus memberitakan Injil, sebab disinilah letak kekuatan kita sebagai orang percaya. ((jer)

 
 Memberitakan Injil Adalah Kewajiban
Celakalah Yang Mengabaikan

Renungan Harian Sabtu, 09 Maret 2013

Sabtu, 09 Maret 2013
Bolehkah Semua?
I Korintus 8: 1--13
Tetapi jagalah, supaya kebebasanmu ini jangan menjadi batu sandungan bagi mereka yang lemah (ay. 9)

Seorang suami menegur istrinya karena mengenakan banyak perhiasan mahal di tubuhnya. “Kita mau ke kampung lihat ibu yang sakit. Apa kata saudara-saudara di kampung kalau kamu pakai perhiasan begitu? Mereka untuk makan saja susah.” Sang istri segera sadar bahwa memang haknya untuk memakai perhiasan miliknya sendiri, tetapi tidak ada gunanya ia memakainya di kampung.”
Inilah yang diajarkan oleh Rasul Paulus kepada orang Kristen di Korintus dan kepada kita juga hari ini. Di dalam Yesus Kristus kita bebas dan boleh melakukan apa saja. Kita bisa makan makanan apa saja, termasuk darah, kita boleh memakai obat apa saja, termasuk obat kampung, kita boleh duduk di mana saja, termasuk di bar, kita boleh menampilkan diri sesuka hati, seperti pakai mobil mewah atau pakai baju terbuka.
Akan tetapi, demi kesaksian atau demi memberkati orang lain, maka kita lebih kita membatasi diri. Bila ada yang tersandung kita makan darah, maka lebih baik tidak makan darah. Bila ada yang tersandung kita menggunakan obat kampung maka lebih baik kita tidak menggunakannya. Bila ada yang kurang sejahtera bila kita memakai pakaian terbuka dan perhiasan mahal, maka lebih baik kita tidak menggunakannya.
Firman Tuhan mendorong setiap orang percaya untuk lebih mengutamakan kesaksian daripada kebebasan. Menjadi batu sandungan adalah hal yang harus dihindarkan. Seorang teman penginjil tidak lagi makan daging B2 karena pelayanannya ke orang-orang yang tidak makan itu.
Sahabat Sinalsal, jelaslah bahwa Tuhan Yesus ingin kita keluar dari keegoisan, keingian untuk memuaskan diri sendiri ke arah sikap untuk mengutamakan kebaikan orang lain. Inilah yang harus kita perjuangkan di dalam hidup kita bagi kemuliaan nama Tuhan Yesus Kristus.
Oleh karena itu, mari kita mulai hari ini untuk tidak lagi mengutamakan kebebasan kita, tetapi kebaikan dan kesejahteraan saudara-saudara kita. (esg)

 Persembahkanlah Hak Saudara
Untuk Kebaikan Bersama

6 Mar 2013

Renungan Harian 07 Maret 2013


Kamis, 07 Maret 2013
Rela Rugi
I Korintus 6: 1--11
Adanya saja perkara di antara kamu yang seorang terhadap yang lain telah merupakan kekalahan bagi kamu. Mengapa kamu tidak lebih suka menderita ketidakadilan? Mengapakah kamu tidak lebih suka dirugikan? (ay. 7)
 
Saya mengajak kita untuk berimajinasi sejenak. Marilah bayangkan, kita menempatkan 10 orang Karo di satu villa dengan sepuluh kamar. Kita membuat kegiatan mereka dengan aturan-aturan tertentu. Lalu, di villa satu lagi, kita menempatkan 10 orang Jawa. Bagi mereka pun ditentukan kegiatan dan aturan-aturan yang berlaku.
Apa yang terjadi seminggu kemudian? Saya mencoba memberikan jawabnya. Sepuluh orang Karo menghadap panitia dan meminta supaya mereka dipindahkan atau teman mereka yang dipindahkan. Mengapa bisa demikian? Jawabnya, karena umumnya, kita tidak terbiasa mengalah atau tidak terbiasa dirugikan. Filosofi orang Karo “Lo terban tokohi kalak”.
Orang Karo tampaknya punya sifat yang tidak jauh berbeda dengan orang Yunani Korintus. Mereka yang satu gereja berselisih satu dengan yang lainnya. Oleh karena tidak ada penyelesaian, maka mereka membawakan masalah mereka ke pengadilan. Sekian lama, masalah mereka menjadi buah bibir masyarakat dan mereka menganggapnya biasa saja.
Sikap inilah yang dicela oleh Rasul Paulus. Dua hal yang tidak patut dilakukan oleh orang Kristen ialah berselisih tanpa penyelesaian. Salah satu penyelesaian yang paling rohani ialah rela dirugikan dan rela diperlakukan tidak adil. Tentu saja ini tidak mudah, tetapi inilah jalan paling rohani. Dua, mengandalkan pengadilan dunia. Orang percaya bukan tidak boleh ke pengadilan, tetapi mestinya gereja dapat menyelesaikan masalah yang terjadi di antara sesama anggota gereja.
Sahabat Sinalsal, rela dirugikan dan rela diperlakukan tidak adil adalah jalan untuk memuliakan nama Tuhan Yesus Kristus. Kita harus belajar percaya bahwa Tuhan Yesus akan membela hak kita dari sikap dan perbuatan orang tertentu yang berniat jahat kepada kita. Marilah kita belajar untuk menerima kerugian asal nama Tuhan Yesus diuntungkan dan rela diperlakukan tidak adil demi kemuliaan Tuhan Yesus. (esg)

 Inilah Tanda Iman
Rela Diperlakukan Tidak Adil dan Dirugikan

 

Renungan Harian 06 Maret 2013


Rabu, 6 M aret 2013
Dunia Saja Tak Begitu
(I Kor. 5: 1—13)
Karena itu marilah kita berpesta, bukan dengan ragi yang lama, bukan pula dengan ragi keburukan dan kejahatan, tetapi dengan roti yang tidak beragi, yaitu kemurnian dan kebenaran (ay.8).

            Orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan Yesus seringkali disebut dengan dunia oleh Alkitab. Saat ini sebagian besar orang dunia terus mencari jati dirinya sebagai manusia yang beradab; keteraturan, ketenangan, dan kuasa pemulihan. Semua yang dicari oleh banyak orang dunia ini sebenarnya sudah ada sejak dulu di dalam Alkitab bagimana cara memperoleh dan memeliharanya, namun seringkali kumpulan orang percaya/umat Tuhan lebih bobrok kehidupannya dari pada orang dunia yang tidak mengenal Tuhan Yesus. Rasul Paulus memperingatkan jemaat di Korintus agar hidup oleh pimpinan Roh Kudus. Jika orang percaya tidak dipimpin Roh Kudus, maka kehidupannya akan lebih jahat daripada dunia.
            Tidak sedikit orang yang mengaku saudara seiman, akan tetapi kehidupannya di dalam percabulan, kikir, pemfitnah, pemabuk atau penipu. Sekalipun mereka sudah hidup di dalam dosa, mereka sombong di dalam keberdosaan mereka. Dunia saja tak begitu kehidupannya; seharusnya kehidupan kita lebih baik dari pada dunia. Maka saat ini kita harus berani mengoreksi dan bertanya kepada diri kita; sudahkah kita lebih baik dari dunia? Orang-orang baik, jujur, dapat dipercaya, pembawa damai, dll, seharusnya muncul dari dalam gereja. Namun yang menjadi pertanyaannya adalah kenapa ini belum sepenuhnya terjadi?
            Jadi Tuhan mengingatkan kita untuk hidup dalam pimpinan Roh; segala sesuatu harus dilakukan di dalam nama Tuhan Yesus dan demi kemuliaan nama Tuhan Yesus, menjauhkan diri kita dari orang-orang yang mengaku saudara seiman tetapi kehidupannya lebih parah dari dunia. Ini adalah peringatan keras bagi semua orang percaya; jika kita berani mengaku orang percaya dan saudara seiman dengan orang percaya, maka kehidupan kita seharusnya lebih baik daripada dunia, jika tidak maka kita akan diserahkan kepada iblis. (jer)

Orang yang dipimpin daging diserahkan kepada iblis
Orang yang dipimpin Roh menerima berkat dari Tuhan

5 Mar 2013









Sodom dan Gomora

(Edi Suranta Ginting)

--------------------------------------

Pendahuluan

Sodom dan Gomora adalah dua dari empat kota yang terletak di Lembah Sungai Yordan. Lot, keponakan Abraham telah memilih untuk tinggal di kota Sodom. Kota ini berkembang menjadi kota yang tidak terkendali, khususnya di bidang moral. Penduduk Sodom seakan-akan tidak tahu bahwa ada Allah yang akan menghakimi setiap perbuatan manusia. Mereka melakukan apa saja yang dapat memuaskan hasrat kedagingan mereka. Akhirnya, Allah menghancurkan kota itu  dengan belerang dan api.

Istilah Sodom berkembang dan mendapat makna konotatif-negatif. Makna konotatif-negatif pertama berkaitan dengan keadaan suatu masyarakat yang bebas (tanpa norma agama) dalam melakukan kegiatan seksual. Yang kedua berhubungan dengan tindakan seksual yang dilakukan secara tidak normal atau homoseksual.

Tanah Karo atau Kabupaten Karo adalah salah satu pusat gereja di Sumatera Utara. Ungkapan yang dikenakan pada daerah ini ialah Tanah Karo Simalem. Ungkapan ini adalah pengakuan dan sekaligus harapan yang demikian luhur untuk tanah kelahiran orang-orang Karo. Simalem bermakna ‘yang menyenangkan hati’ atau ‘damai, baik, tenang, atau baik’. Oleh karena itu, setiap orang Karo, khususnya yang merantau, akan selalu rindu untuk melihat atau kembali ke Tanah Karo Simalem. Kemalemen Tanah Karo sedemikian mengikat hati orang Karo, sehingga mereka selalu rindu berada di Tanah Karo Simalem.

Akan tetapi, pada tahun-tahun terakhir ini, Tanah Karo Simalem mendapat guncangan yang sangat menguatirkan. Media-media melaporkan bahwa warga Tanah Karo menjadi pengidap HIV/AIDS tertinggi di Sumatera Utara. Ada 345 orang yang terdata mengidap penyakit yang mengerikan tersebut. Biasanya, karena penyakit itu memalukan, banyak orang yang mengidap penyakit itu menyembunyikan diri. Oleh karena itu, ada yang menduga bahwa mungkin saja penderita penyakit itu berjumlah ribuan orang di Tanah Karo.

Di samping penyakit itu, kita juga membaca di media massa bahwa judi kembali marak di Tanah Karo, peredaran dan pemakaian narkoba, dan tempat-tempat prostitusi. Judi, narkoba, dan prostitusi adalah penyakit sosial. Oleh karena itu, penyembuhannya harus dimulai dari perubahan perilaku masyarakat. Per laku hidup yang tidak sesuai dengan norma-norma budaya dan agama harus ditinggalkan. Tentu saja, lembaga yang paling kompeten dalam hal ini ialah gereja.

Keadaan Tanah Karo bisa dikaitkan dengan Sodom dan Gomora. Kaitannya karena perilaku masyarakat yang mengandung kemiripan dengan masyarakat Sodom yang bebas tanpa norma budaya dan norma agama.

Sodom dihukum Allah karena perilaku mereka yang bertentangan dengan peraturan Tuhan. Bila Tuhan bisa menghukum Sodom, maka Tuhan juga bisa menghukum Tanah Karo. Supaya hukuman tidak terjadi, maka orang Karo harus berubah sikap dan meninggalkan perilaku bebas tanpa nilai-nilai moral dan kembali beribadah dengan setia kepada Tuhan Yesus.

Sodom dan Gomora (Kejadian 18: 16—19: 29)

Firman Tuhan mengatakan bahwa banyak sudah keluh kesah orang terhadap keadaan Sodom dan Gomora. Dosa mereka sudah sangat berat (Kej. 18: 21). Akan tetapi, Tuhan ingin melihat langsung kebenaran dari keluh kesah orang tersebut dengan mengutus malaikatnya ke Sodom dan Gomora (Kej. 18: 21).

Dalam perjalanan menuju ke Sodom dan Gomora itu, malaikat Tuhan berdampingan dengan Abraham. Karena sudah diberitahukan rencana penghukuman terhadap Sodom dan Gomora, maka Abraham memberanikan diri untuk membela Sodom dan Gomora dari rencana penghancuran itu. Abraham mengatakan kepada malaikat Tuhan itu, “Bila ada sepuluh orang benar, apakah Engkau akan menghancurkan kota itu?” Malaikat Tuhan menjawab bahwa bila ada sepuluh orang benar  di Sodom dan Gomora, maka Allah tidak akan menghancurkan kota itu. (Kej. 18: 32).

Malaikat Tuhan itu melanjutkan perjalanan mereka ke Sodom dan mereka tiba pada waktu petang. Lot yang melihat kedua malaikat itu menyambut dan mendesak malaikat itu untuk mampir ke rumahnya.

Selesai makan, sebelum tidur, tiba-tiba rumah Lot dikepung oleh semua laki-laki, tua dan muda, dari seluruh kota itu. Mereka memaksa Lot untuk menyerahkan dua orang malaikat itu untuk mereka pakai. Lot mempertahankan kehormatan tamu-tamunya. Ia bahkan menawarkan dua orang anak perempuannya yang perawan untuk diperlakukan sesuka hati laki-laki kota itu. Akan tetapi, mereka tidak mau, karena mereka semua homoseksual. Barangkali, Lot sudah tahu mereka tidak suka kepada perempuan, sehingga ia menawarkan kedua anak perempuannya.

Laki-laki kota itu memaksa Lot untuk menyerahkan malaikat-malaikat itu. Ketika mereka akan mendobrak pintu, malaikat itu membutakan semua mata laki-laki kota itu, sehingga mereka tidak berhasil menemukan pintu rumah Lot.

Setelah itu, kedua malaikat itu memberitahukan Lot rencana mereka untuk menghancurkan kota Sodom dan mendesak Lot dan keluarganya untuk menyelamatkan diri. Berbeda dengan Nuh yang berhasil mengajak istri, anak-anak, dan mantu-mantunya, Lot hanya berhasil menyelamatkan dirinya dan kedua putrinya. Kedua calon mantunya menganggap Lot hanya berolok-olok, sedangkan istrinya melanggar perintah malaikat dengan berlama-lama melarikan diri dan memandang ke belakang.

Tuhan menghancurkan Sodom dan Gomora dengan hujan belerang dan api dan menunggangbalikkan kedua kota itu. Ketika esok hatinya Abraham melihat kota itu, maka kelihatan kota itu sudah rata seperti tempat peleburan.

Sodom Amerika dan Karo

Billy Graham adalah tokoh utama Gerakan Kebangunan Rohani gelombang ke-4 (yang pertama Jonathan Edwards, kedua, Charles Finney, ketiga, D.L.Moody) dan sekaligus juga adalah bapa rohani orang Amerika. Billy Graham adalah penasihat rohani setiap presiden Amerika Serikat. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa Billy Graham mengenal betul karakter dan perkembangan rohani orang Amerika.

Oleh karena itu, masyarakat dunia cukup kaget ketika Billy Graham menyatakan bahwa Amerika Serikat sudah sama seperti Sodom dan Gomora. Sebenarnya, menjelang kematiannya 20 tahun yang lalu, istri Billy Graham sudah menyatakan bahwa Amerika adalah sama dengan Sodom dan Gomora. Pada akhir tahun 2012 kemarin, Billy Graham menegaskan ulang suara kenabiannya, yaitu bahwa Amerika akan dihukum seperti Tuhan menghukum Sodom dan Gomora.

Billy Graham tidak hanya menegur keras orang Amerika, tetapi juga segera membuat gerakan pemulihan untuk orang Amerika. Gerakan pemulihan yang diberi nama My Hope With Billy Graham menantang setiap orang Amerika untuk bertobat dan kembali ke sikap takut akan Tuhan dan beribadah kepada Tuhan Yesus dengan segenap hati.

Sebenarnya, hukuman terhadap Amerika sudah kelihatan pada tahun-tahun terakhir ini dengan terjadinya kemunduran ekonomi dan peran Amerika di dunia. Krisis keuangan Amerika pada 2008 dengang bangkrutnya beberapa lembaga keuangan terbesar Amerika adalah tanda-tanda yang harus dilihat dari aspek rohani. Amerika bukan lagi negara super power dan negara terkaya, karena peranan bangsa ini sudah mulai digantikan oleh negara China. Kita harus mengingat juga bahwa kekristenan mengalami perkembangan yang sangat pesat di China dan peranan orang Kristen di negara ini cukup signifikan.

Beberapa orang Karo mulai mengaitkan Karo atau Tanah Karo dengan Sodom dan Gomora. Bahkan ada lagu Karo rohani yang menyerukan doanya kepada Tuhan Yesus agar Tanah Karo tidak mengalami kehancuran seperti yang terjadi pada Sodom dan Gomora.

Kita bisa mengerti bahwa pengaitan Karo dengan Sodom terutama karena berita terdeteksinya 300-an lebih warga Karo yang mengidap HIV/AIDS. Berita tentang merebaknya penyakit ini di Tanah Karo hanyalah puncak dari sudah lamanya merebak prostitusi, judi, narkoba, dan perbuatan amoral lainnya di Tanah Karo.

Mungkin lalat buah yang sudah sangat menggelisahkan warga Karo bisa menjadi penanda bahwa Tuhan sedang memberi peringatan kepada warga Karo untuk segera sadar dan berubah.

Sepuluh Orang Benar

Penghukuman Sodom dan Gomora terjadi karena di kota itu tidak terdapat 10 orang benar. Bila ada 10 orang benar di kota itu, maka kota itu tidak akan dihancurkan oleh Allah (Kej. 18: 32). Apakah kriteria benar yang dimaksudkan oleh malaikat Tuhan. Dalam konteks percakapan Abraham dan malaikat itu, maka Abraham adalah kriteria orang benar. Dalam konteks penyelamatan Lot, maka kriteria benar adalah Lot.

Pertanyaan berikutnya ialah apakah angka 10 adalah angka matematika atau angka simbolis? Saya cenderung menafsirkan bahwa angka 10 adalah angka simbolis yang mengacu pada seseorang atau sejumlah orang yang sungguh-sungguh benar di hadapan Tuhan dan menunjukkan signifikansi ketaatan kepada Tuhan Allah.

Abraham adalah orang benar yang sungguh-sungguh taat kepada Allah. Itulah sebabnya, Allah meluputkannya dari marabahaya bahkan dari hukuman akibat kecerobohan maupun kelemahannya (Kej. 12: 13, 20: 2).

Oleh karena itu, yang dibutuhkan untuk menghindari hukuman Sodom Gomora adalah adanya orang-orang seperti Abraham, mungkin cukup satu sebagai pemimpin dan banyak orang sebagai pengikut. Kita tahu bahwa John Wesley adalah orang benar yang menyelamatkan bangsa Inggris dari kebangkrutan dan perang saudara pada abad ke-18.

Jadi, supaya Tanah Karo tidak dihukum Tuhan seperti Sodom dan Gomora maka perlu hadir seorang atau beberapa orang benar yang memiliki karisma untuk menggerakkan masyarakat dari masyarakat apatis permisif dan pelaku dosa menjadi masyarakat yang menghormati Tuhan Yesus dan berusaha menjalankan perintah-perinta Tuhan yang tertulis di dalam kitab suci. Kita perlu mendoakan supaya terjadi transformasi iman di Tanah Karo yang dipelopori oleh seseorang atau satu gereja yang dipilih oleh Tuhan Yesus.

Penutup

Pengaitan Sodom-Gomora dengan Karo adalah bentuk keprihatinan orang percaya terhadap keadaan Karo yang sudah sangat memprihatinkan. Tingkat pengidap HIV/Aids yang tinggi, menjamurnya narkoba, perjudian, kemabukan, dan prostitusi memiliki korelasi dengan timbulnya berbagai persoalan ekonomi masyarakat Karo. Salah satu wabah yang sungguh-sungguh menyesakkan dada warga Karo ialah lalat buah yang hingga hari ini tidak bisa ditanggulangi oleh masyarakat maupun oleh pemerintah.

Supaya Tanah Karo tidak dihukum seperti Sodom dan Gomora, maka kita mendoakan agar hadir 10 orang benar di Tanah Karo. Sepuluh orang benar bukan angka matematika, melainkan suatu gerakan yang signifikan yang bisa mengubahkan keadaan yang menjauh dari Tuhan, yang membiarkan dosa merajalela menjadi keadaan sebaliknya.

Inilah tugas setiap orang percaya supaya bahu-membahu untuk mengubahkan Tanah Karo yang seperti Sodom menjadi Tanah Karo yang bagaikan Yerusalem, tempat yang indah untuk memuji dan beribadah kepada Tuhan Yesus. (esg)