Mejuah-juah.  Selamat datang di blog sederhana kami: "Gereja Injili Karo Indonesia.   Gereja Injili Karo Indonesia(GIKI) adalah gereja yang mengintegrasikan INJIL dan budaya KARO, dengan membina sentralitas, sakralitas, dan ritualitas iman.   2K(KK): Kristus dan Karo! Kami mencintai Kristus dan Karo; Kami menyembah Kristus dengan budaya Karo.   Syalom ras Mejuah-juah man banta kerina... Adi Tuhan Yesus sijadiken palas bas tengah-tengah geluhta, maka megegeh kita mbentasi kegeluhen enda aminna pe lit kalisunggung i lebe-lebenta .... adi megermet kita kerna budayanta, maka meriah katawari pe ukurta sebab enterem temanta si banci nampati kita...Syaloom mejuah-juah. Tuhan Yesus memberkati.

22 Mar 2013

Renungan Harian, Jumat, 23 Maret 2013

Jumat, 22 Maret 2013
Hidup Karena Percaya
2 Korintus 5:1-10

 “Sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat.” (Ay. 7)


            Rasul Paulus mengungkapkan kepada jemaat Korintus, suatu bentuk keyakinan atau pengharapan yang luar biasa. Dimana Rasul Paulus menyakini bahwa Allah mempersiapkan mereka untuk nanti menempati suatu tempat kediaman yang kekal di Sorga, yang tidak dibuat oleh tangan manusia. Dan juga Allah mengaruniakan Roh kepada mereka sebagai jaminan segala sesuatu yang telah disediakan bagi mereka.

            Keyakinan itulah yang membuat Rasul Paulus dkk. tidak tawar hati sekalipun mereka masih berada dalam kemah dan tubuh dunia ini. Meskipun tantangan pelayanan mereka sangat berat, hati mereka senantiasa tabah. Karena hidup mereka adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat. Itulah yang memotivasi mereka.

            Sahabat sinalsal yang terkasih, melihat dan menghadapi tantangan kehidupan yang semakin sulit ini, membuat sebagian orang tidak berani lagi hidup. Sehingga mereka memilih untuk mengakhiri kehidupannya. Mereka memiliki terlalu banyak alasan untuk mengakhiri kehidupannya dan tidak memiliki satu alasan pun untuk tetap berjuang. Karena mereka tidak memiliki pengharapan dan pegangan hidup seperti yang dimiliki oleh Rasul Paulus dkk.

            Sebagai anak-anak Tuhan kita harus berbeda. Karena itu, mari kita belajar dari Rasul Paulus dkk-nya yang memiliki keyakinan yang luar biasa. Bahwa kehidupan yang penuh dengan beban berat di dunia yang kita tempati ini, hanya bersifat sementara. Tuhan sudah mempersiapkan suatu tempat di sorga dan menyediakan segala sesuatu yang terbaik bagi kita. Bukankah kita juga telah menerima Roh-Nya sebagai  jaminan bagi kita? Jika kita berani meyakini hal tersebut, maka kita pasti tabah menjalani kehidupan ini. Kita tidak akan tawar hati menghadapi tantangan-tantangan di depan kita. Sebab kita punya pengharapan yang pasti di dalam Kristus, dan pengharapan kita kepada-Nya tidak akan mengecewakan.(asw)


Pengharapan kepada Janji Kristus
Memberikan seribu alasan untuk hidup

20 Mar 2013

Renungan Harian, Kamis, 21 Maret 2013

Kamis, 21 Maret 2013
Harta Dalam Bejana
II Korintus 4: 1--15

Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami (ay. 7)


Ada dua ciri utama gereja mula-mula. Satu, daya sebar yang istimewa dan dua, daya tahan yang luar biasa. Dengan keterbatasan sarana, Injil bisa dibawa dari Yerusalem ke Roma dan ke ujung-ujung bumi. Walaupuan ditekan dan diancam nyawa, mereka tetap bertahan dengan ketabahan yang mengagumkan.

Darimanakah daya sebar dan daya tahan yang mereka miliki itu? Rasul Paulus memberikan jawaban bahwa kekuatan itu bukan berasal dari diri mereka sendiri, melainkan berasal dari Allah. Inilah harta dalam bejana yang dimiliki oleh Rasul Paulus dan orang percaya mula-mula.

Rasul Paulus tidak pernah sepi dari ancaman dan kesulitan, tidak pernah sepi dari kritikan dan hinaan, dan tidak pernah sepi dari kekurangan dan keterbatasan. Sangat sering ia kelaparan dan kedinginan dalam perjalanan pelayanan. Tetapi, semangatnya untuk memberitakan Injil tidak pernah berkurang.

Rasul Paulus mengatakan bahwa dia senantiasa membawa kematian Kristus di dalam tubuh mereka, sehingga mereka Yesus Kristus yang hidup nyata juga di dalam pelayanannya. Inilah rahasia pelayanan yang luar biasa. Bila kita mengingat salib Tuhan Yesus, maka semua penderitaan kita menjadi tidak terasa apa-apa. Bila kita mengingat masih banyak orang yang hidup dalam kegelapan, maka semangat kita untuk memberitakan Injil akan berkobar kembali.

Sahabat Sinalsal, apa yang ada di dalam diri kita itulah yang akan tertampil juga dalam hidup kita. Bila harta dunia dan kesenangan dunia sudah mengisi hati kita, maka kesediaan untuk berkorban bagi Tuhan Yesus akan tipis dalam hidup kita. Akan tetapi, bila salibnya dan kematian-Nya selalu ada di hati kita, maka semangat dan kekuatan yang luar biasa akan nyata di dalam hidup kita.

Oleh karena itu, marilah kita senantiasa memiliki harta dalam bejana tanah liat dengan menjadikan salib dan kematian Tuhan Yesus menghiasai hati kita. (esg)


Kematian Tuhan di dalam Hati Kita
Kekuatan Tuhan di dalam Hidup Kita

Renungan Harian, Rabu, 20 Maret 2013


Rabu, 20 Maret 2013

Surat-surat Kristus

2 Korintus 3:1-18


Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal

dan yang dapat dibaca oleh semua orang (ay. 2).

                                                                                              

Rasul Paulus berkata bahwa orang-orang yang sudah mereka layani menjadi kebanggaan dalam hati mereka. Sebab, bagi Allah Paulus dkk adalah bau yang harum dari Kristus di tengah-tengah mereka yang diselamatkan (2 Kor. 2:15). Itulah sebabnya Rasul Paulus berkata: “Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang” (ay. 2).


Dijelaskan juga bahwa karena pelayanan Paulus dkk-lah, jemaat Korintus menjadi orang-orang yang memiliki surat-surat Kristus yang tertulis dalam hati mereka oleh Roh. Artinya, jemaat Korintus menjadi orang-orang yang memiliki Roh Kudus yang hidup dan bekerja dalam diri mereka. Roh Kudus menjadi tuan yang memerintah dalam hidup mereka (ay. 3). Dan Roh itu adalah kemuliaan. Tentu saja, jika Roh Kudus yang memerintah hidup mereka, pastilah kehidupan mereka menunjukkan gambaran Kristus yang membawa kepada kemuliaan.


Saudara, siapa yang tidak bangga jika orang yang kita layani hidup dalam kebenaran firman Tuhan, bertumbuh terus menuju kesempurnaan dan hidupnya penuh dengan kemuliaan. Itulah yang dilihat dan menjadi kebanggaan bagi Rasul Paulus dkk. Dan juga ditambah dengan keyakinan bahwa kemuliaan yang lebih besar juga menyertai pelayanan mereka seperti yang dialami oleh Musa.


Sahabat Sinalsal yang terkasih, semua kita tahu bahwa ketika kita percaya kepada Kristus, Roh Kudus dimateraikan dalam hati kita (Ef. 1:13). Artinya, kita juga sudah memiliki firman yang hidup (dalam bentuk Roh) di dalam diri kita. Jika kita mau diperintah oleh Roh itu, maka hidup kita pun pasti mengalami pertumbuhan serta diliputi senantiasa oleh kemuliaan Kristus. Dari sikap hidup yang dipimpin oleh Roh, maka orang-orang sekitar kita dapat membaca bahwa kita adalah pengikut Kristus. Hidup kita pasti termulia. (asw)



Hidup yang dipimpin oleh Roh

Membawa kepada kemuliaan Kristus

18 Mar 2013

Renungan Harian, Selasa, 19 Maret 2013

Minggu, 19 Maret 2013
Ampuni Yang Sudah Sadar
II Korintus 2: 5--11

Bagi orang yang demikian sudahlah cukup tegoran dari sebagian besar dari kamu,
sehingga kamu sebaliknya harus mengampuni dan menghibur dia, supaya ia jangan binasa oleh kesedihan yang terlampau berat (ay. 6, 7)


Seorang wanita 30-an tahun ditemukan bunuh diri dengan menggantung dirinya di pintu belakang rumahnya. Polisi segera turun tangan dan mengadakan pemeriksaan. Setelah dipastikan bahwa yang bersangkutan bukan dibunuh, melainkan bunuh diri, maka polisi segerah menyerahkan jenazah kepada keluarga.

Bisik-bisik di antara jemaat bahwa kematian wanita itu akibat depresi yang sangat hebat. Karena sudah sekian tahun tidak memperoleh anak, maka suaminya, tanpa setahunya, berhubungan dengan seorang perempuan tanpa ikatan resmi. Tujuannya supaya mendapat anak dan setelah anak itu didapat, maka ia akan memisahkan diri dari wanita itu.

Pihak gereja mengetahui hal itu dan memberi sanksi. Sanksinya ialah keluarga itu didisiplin dengan tidak boleh mengikuti perjamuan kudus dan lain-lain. Yang lebih berat lagi ialah sanksi dari masyarakat. Teman-temannya menjauh darinya dan bahkan ia tidak lagi diikutkan dalam berbagai kegiatan gereja. Hal itulah yang membuat sangat terpukul.

Gereja Korintus menghadapi kasus yang hampir sama. Ada jemaat yang berbuat salah dan mendapat sanksi dari gereja. Tentu saja orang yang terkena sanksi itu menjadi terpukul dan merasa malu. Oleh karena itu, Rasul Paulus meminta supaya jemaat jangan menambah rasa malu orang tersebut dengan menghindarinya. Orang itu harus diampuni dan dikuatkan, sehingga tetap setia kepada Tuhan.

Sahabat Sinalsal, gereja harus menjaga supaya jangan sampai ada anggota jemaat yang bunuh diri karena rasa malu dan rasa tertekan yang begitu hebat. Gereja bukan kumpulan penghukum, melainkan kumpulan penghibur dan penyembuh. Orang yang salah tetap diberi sanksi oleh gereja, tetapi warga gereja memberi dukungan bukan hukuman tambahan.

Mari kita menjaga gereja kita agar tetap sebagai keluarga yang saling menguatkan satu dengan yang lain. (esg)
                                                                       
Gereja Adalah Komunitas Penyembuh
Yang Lemah Dibuat Teguh

Renungan Harian, Senin, 18 Maret 2013

Senin, 18 Maret 2013
Terhibur Untuk Menghibur
2 Korintus 1:3-11
Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam
 segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka,
 yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan
 penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah  (ay. 3b., 4).


Rasul Paulus menceritakan pengalamannya bersama dengan Timotius di dalam memberitakan Injil Kristus kepada banyak orang yang mereka jumpai di Asia kecil. Di dalam pemberitaan Injil tersebut, dikatakan bahwa beban yang ditanggungkan kepada mereka begitu besar dan begitu berat yang membuat mereka sampai putus asa. Dan bahkan dikatakan mereka merasa sudah dijatuhi hukuman mati (ay. 8,9).
      Di saat penderitaan berat menimpa mereka, maka Allah juga memberikan penghiburan. Inilah yang selalu menumbuhkan pengharapan baru bagi mereka. Sekalipun mereka katakan seperti dijatuhi hukuman mati, namun mereka dimampukan karena penghiburan yang mereka terima itu berasal dari Allah sendiri. Dan penghiburan dari Allah itu sekaligus menumbuhkan pengharapan karena pekerjaan Allah atas mereka mengingatkan mereka bahwa kekuatan yang mereka miliki itu berasal dari Allah semata-mata.
     Dan Allah tidak hanya menyelamatkan mereka di dunia ini saja tetapi juga Allah akan menyelamatkan mereka dari kematian kekal (ay. 9,10). Berdasarkan itulah, sekalipun mereka menanggung beban yang begitu berat serta berada dalam tantangan yang begitu besar, mereka tetap mampu memberikan penghiburan kepada jemaat di Korintus.
     Sahabat Sinalsal yang terkasih, mari kita belajar dari Rasul Paulus dan Timotius untuk tidak alergi terhadap penderitaan, apalagi penderitaan karena nama Kristus atau karena pemberitaan injil. Sebab, jika kita menderita karena nama Kristus, kita akan mendapat penghiburan dari Allah sendiri.
          Bayangkan saudara, Allah pencipta langit dan bumi langsung memberikan perhatian khusus kepada kita. Tentu hal itu sungguh istimewa, sehingga akhirnya akan menumbuhkan pengharapan baru juga bagi kita. Artinya, ada kekuatan yang luar biasa yang kita terima dari Tuhan sehingga kita dimampukan untuk dapat menghibur orang lain juga ditengah-tengah penderitaan yang kita alami. Luar biasa bukan? (asw)

Penderitaan karena nama Kristus
Memberikan pengharapan baru

14 Mar 2013

Renungan Harian, Kamis, 14 Maret 2013

Kamis, 14 Maret 2013
Yang Utama Kasih
(I Kor. 13: 1—13)
Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan, dan kasih, dan yang paling besar diantaranya ialah kasih (ayat 13).

            Pada suatu hari ada seorang ibu yang berdoa kepada Tuhan dengan menuntut, “Aku telah beriman kepada-Mu, aku taruhkan semua pengharapanku kepada-Mu, tapi kenapa aku masih saja tetap begini”. Doa atau pernyataan ini mungkin seringkali kita dengar sehingga tidak sedikit orang Kristen yang meninggalkan imannya dengan beralih kepada kepercayaan yang lain. Hal ini terjadi dikarenakan begitu banyak orang Kristen yang diisi dengan pengetahuan sehingga iman dan pengharapannya tidak terealisasi/terwujudkan dalam tindakan yang nyata yaitu kasih. Rasul Paulus berkata; “sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, sekalipun aku dapat bernubuat, sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna” (ayat 1-2).
            Ternyata kepintaran/pengetahuan dan iman yang membuahkan kuasa saja tidak cukup agar hidup kita berguna bagi kemuliaan Tuhan dan bagi orang di sekitar kita. Kasih adalah syarat mutlak yang harus ada sebagai bukti bahwa iman dan pengharapan kita benar-benar kepada Kristus. Kasih itu sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri, tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopan, tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah, tidak menyimpan kesalahan orang, tidak bersukacita karena ketidakadilan melainkan karena kebenaran. Kasih itu menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu, inilah kasih yang harus ada di dalam kehidupan kita sebagai bukti bahwa Kristus ada di dalam kita.
            Semua akan berakhir, tetapi kasih tidak akan pernah berakhir. Kita tidak bisa berkata sebagian kasih yang tertulis di atas tadi sudah ada tetapi sebagian lagi belum. Bagian mana yang belum ada di dalam kita atau belum bisa kita laksanakan, maka ingatlah bahwa yang utama di dalam kehidupan kita sebagai orang percaya adalah kasih. Kita harus mengusahakan dan meminta kekuatan dari Tuhan untuk mewujudkan kasih di dalam kehidupan kita; dimanapun, dalam situasi bagaimanapun, dan kepada siapapun.(jul)

Semua akan berakhir dan lenyap, tetapi kasih tidak akan berakhir
Mari kita tanam dan pupuk kasih di antara kita
 

 

13 Mar 2013

Renungan Harian, Rabu, 13 Maret 2013

Rabu, 13 Maret 2013
Hormati Yang Tak Terhormat
I Korintus 12: 12--31

Hal itu tidak dibutuhkan oleh anggota-anggota kita yang elok. Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus, (ay. 24)


Suatu kali, saya berada di satu lantai supermarket untuk membeli lap mobil. Di satu rak, bertebaran tube-tube lap mobil dari berbagai merek. Saya memperhatikan satu per satu untuk mendapatkan lap yang saya inginkan. Tiba-tiba pelayan yang sedang membereskan barang-barang di dekat saya berkata, “Om, kalau lap yang bagus ada di kasir.” “O, ya, terima kasih, ya,” balas saya sambil berjalan ke arah kasir.

     Di sebelah kasir ada rak kaca dan di dalamnya tersusun rapi lap-lap dari satu merek. “Kenapa dipisah,” tanya saya. “Ini yang mahal, Pak. Yang di sana yang biasa,” jawab kasir. Saya jadi tahu bahwa lap yang mahal disusun di tempat yang bagus, sedangkan lap yang biasa dibiarkan saja berserakan di rak besar.

     Kalau ajaran Tuhan Yesus berbeda. Di dalam gereja, para pejabat, pengusaha, dan orang-orang sukses lainnya akan diperlakukan biasa, sedangkan orang-orang biasa akan diperlakukan secara istimewa. Inilah ajaran Tuhan Yesus yang harus diterapkan oleh gereja sepanjang masa.

      Ajaran ini bukan hanya terdapat di kitab Korintus, tetapi juga di Roma 15 (anggota yang kuat wajib menolong anggota yang lemah). Mengapa gereja perlu mengistimewakan orang-orang biasa? Jawabannya ialah supaya tidak terjadi perpecahan dan supaya semua anggota saling memperhatikan.

      Orang-orang sukses tidak butuh perhatian, tetapi orang-orang yang gagal atau kurang beruntung sangat membutuhkan perhatian. Mereka inilah yang harus gereja perhatikan. Gereja juga perlu mendorong orang sukses untuk memperhatikan orang yang kurang sukses, karena hal itu akan membuat hidup orang sukses menjadi lebih indah.

      Sahabat Sinalsal, ajaran ini memang jelas, tetapi jelas juga belum bisa diterapkan. Oleh karena itu, marilah kita mulai dari diri kita sendiri. Janganlah kita menuntut perhatian, tetapi usahakanlah memberi perhatian kepada saudara-saudara kita di gereja yang sedang membutuhkan perhatian kita. (esg)



Ajaran Untuk Gereja
Istimewakan Anggota Yang Biasa